Doa Allahumma baarik lanaa fii maa razaqtanaa wa qinaa ‘adzaaban naar, itu doa yang simpel tetapi memiliki kandungan yang luar biasa. Mengapa? Karena untuk menepis barang-barang yang diketahui atau tidak diketahui, terutama barang yang haram, dan al-khabaaits (dari doa masuk WC, ”Allahumma innii a’uuzhu bika min al-khubutsi wa al-khabaa-its). Karena doa-doa ini, sekalipun dibaca di tempat dan waktu yang berbeda, namun masih memiliki kaitan. Para sesepuh kita dahulu kalau makan itu memakai pakaian yang bagus, rapi, wangi, ceritanya yang baik-baik, kalau ada tamu ceritanya yang menyemangati tamu agar tamu tidak rikuh makan dan tamu nikmat makannya. Hal itu karena beliau-beliau makan sambil menghormati pemberi rezeki, bismillah bin niyah hormat kepada pemberi rizki, sehingga kalau ada nasi yang jatuh sekalipun sebiji (seupa) itu diambil, karena untuk hormat kepada yang menciptakan dan pemberi rezeki, serta ingat bahwa yang ikut andil dari sebutir nasi itu banyak, dari mulai petani, air, tanah, sinar matahari, penjual, dan lain-lain. Dan ini masuk dalam doa Allahumma baarik lanaa fiimaa razaqtanaa wa qinaa ‘adzaaban naar..Kalau dalam nasi saja yang andil banyak, apalagi bangsa dan Negara ini? Apalagi penyebaran Agama Islam ini? Apa penyebaran Agama hanya andil satu kiai? Apa kemerdekaan hanya andil satu atau dua orang?Para auliya’, makannya beliau-beliau saja itu ibadah, karena di dalam makan menyadari ketauhidan Allah, pasrah, ketika makanan masuk maka sadar dan pasrah, karena tanpa campur tangan kuasa Allah, makanan itu tidak bisa masuk ditelan, tidak bisa dicerna menjadi darah, dan lain-lain. Di sinilah unsur tauhid dalam makan. Sehingga tidak ada yang merasa bisa disombongkan..Kalau kita makan kita niati untuk ibadah, maka tubuh ini bisa merasa berat untuk bermaksiat.Mengapa kok dalam doa ada wa qinaa ‘adzaaban naar? Wa qinaa ‘adzaaban naar ini tidak hanya untuk konteks akhirat. Karena belum tentu yang dimakan adalah halal, meskipun secara syari’ah halal. Dan waqinaa ‘adzaaban naar ini kemudian dijawab dalam doa masuk kamar mandi atau WC dan doa setelah buang air. Wallahu a’lam.
Tampilkan postingan dengan label Tasawuf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tasawuf. Tampilkan semua postingan
Minggu, 07 Oktober 2012
Ulama Sodoqun dan Ulama Solihun
Ada dua kelompok ulama. Ada as sodiqun mislu rusul ada as solihun. Maksud mitslu Rusul itu dalam pengertian as Sodikun adalah ulama yang oleh Allah dikuatkan dengan karamat yang dzahir sebagaimana para Rasul yang dikuatkan oleh Allah dengan mu’jizat. Seperti ada orang yang mau beriman berkata; tandanya anda rusul apa, saya mau buktinya, saya minta mu’jizatnya. Nah rasul di sini wajib menunjukkan mu’jizatnya.
Demikian pula auliya’-auliya’ itu. Seperti Syekh Abdul Qodir Al Jaelani. Beliau ditanya apa buktinya kalau Nabi Muhammad bisa menghidupkan orang mati. Syekh Abdul Qodir al Jaelani menjawab, ‘Terlalu tinggi kalau Nabi saya. Bagaimana dengan Nabimu?’ Orang yang bertanya berkata, “Nabiku bisa menghidupkan orang yang telah mati.” “Caranya bagaimana?,” lanjut Syekh Abdul Qadir. “Nabiku mengatakan, ‘Qum bi idzinillah,’ hiduplah dengan seijin Allah,” jawab orang itu. “Oke carikan saya orang mati,” pinta Syekh Abdul Qadir.
Syekh Abdul Qodir al Jaelani langsung meng¬hidupkan orang mati itu dengan berkata; ‘Qum Bi Idzni,’ hidup¬lah dengan seijinku. Jangankan Nabi-ku, aku saja bisa. Nabi terlalu tinggi, kata Syekh Abdul Qodir al Jaelani. ‘Qum bi idzni”, bukan bi idznillah lagi karena apa, untuk melemahkan orang yang meremeh¬kan Nabi, atau yang tidak mempercayai Nabi Muhammad SAW. Syekh Abdul Qadir Al Jailani tidak memakai kata-kata ‘Bi Idznillah’, tapi ‘Qum Bi Idzni’ hakikatnya Syekh Abdul Qodir al Jaelani tetap memohon kepada Allah SWT. Seperti juga karomah Habib Umar bin Thoha Indaramayu waktu bertandang ke Sultan Alaudin, Palembang. Dan seperti Al Habib Alwi bin Hasyim bisa menghidupkan orang mati, tentu saja atas seijin dan kuasa Allah SWT.
Para ulama dan para auliya’ menolong kepercayaan kita atas kebenaran yang dibawa Al Quran; seperti bagaimana ashabul kafi. Ashabul kahfi bukan rasul, mereka adalah wali. mereka tidur sampai 360 tahun. Bayangkan saja. Terus karamat Juraij, karamat Luqmanul Hakim dan banyak lagi yang dicaritakan al Al Quran. Seperti juga Nabi Allah Sulaiman. Dikisahkan dalam al Qur’an beliau bisa berbicara dengan burung.
Wali Allah di Indonesia pun ada yang bisa berbicara bahasa hewan, seperti Mbah Adam dari Krapyak, Pekalongan. Auliya-auliya kita itu dulu begitu. Banyak lagi cerita auliya-auliya ulama-ulama di Indonesia. Ulama Jawa yang karamatnya luar biasa, seperti Mbah Sholeh Semarang, Mbah Kholil Bangkalan, banyak kalau kita ceritakan. Akhirnya dengan adanya yang demikian, kita percanya mantap dengan apa yang disebutkan oleh Al Quran;
أَلا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ
Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS: Yunus:62) Dari perilaku, sikap, dan karamat-karamat mereka kita tahu juga bagaimana gambaran dari;
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. (QS: Fathir: 28). Kita sudah tidak heran lagi kanapa yang disebut dalam ayat itu adalah ulama. Nah itulah hebatnya auliya-auliya terdahulu, luar biasa, mem¬punyai karamat yang top-top. Banyak lagi kalau diceritakan. Dan kita akan menemukan auliya-auliya yang ada di Indonesia ini luar biasa-luar biasa karamat¬nya. Nah tujuan dari semua ini adalah menolong kita, yang awalnya kepercayaan terhadap sahabat sangat tipis, suudzon, berburuk sangka dan sebagainya, ditolong oleh para ulama dan para wali-wali Allah SWT.
Kembali kepada para sahabat Nabi. Sahabat Nabi adalah orang atau generasi pertama yang menerima tongkat estafet dan mewarisi apa yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Ada banyak hal yang membuat saya kagum ketika saya ber¬bicara tentang keutamaan para sahabat Nabi itu.
Di antaranya saja; kehebatan dan kuatnya keimanan mereka. Saya tidak akan menyebut¬kan yang lain-lain, kita tidak sampai. Dalam istilah jawa itu; kali sak dodo. Sekarang kita lihat bagaimana banyaknya tafsir-tafsir yang menjelaskan maksud Al Qur’an ada ribuan bahkan mungkin jutaan. Satu judul tafsir saja ada yang 50 jilid, 60 jilid. Seperti At Thabari, Fakhru Razi, atau juga yang baru-baru seperti tafsir Syekh Thanthawi. Banyak sekali. Belum lagi yang mem¬bahas fiqih, tauhid dan lain-lain.
Semenatara pada jaman sahabat dulu tidak ada kitab yang menumpuk seperti saat ini. Jangankan kitab, menulis pun tidak, karena banyak di antara mereka yang umiy’; tidak bisa baca-tulis. Begitu ada wahyu disampaikan oleh Rasulullah SAW pada sahabat, dihapal¬kan, dan mereka langsung hapal, langsung percaya, langsung yakin.
Ilmu mereka adalah apa yang disampaikan oleh Rasulullah SAW. Baik berupa wahyu atau hadits yang disampaikan oleh Rasullah. Tapi dengan kesederhanaan itu dapat menghasilkan satu keyakinan yang luar biasa yang terpatri dalam hati mereka. Keyakinan yang hebat itu mewarnai dalam ijtihadnya dalam mujahadahnya dan sebagainya. Banyak hadits yang menceritrakan bagaimana kekuatan dan kehebatan keimanan mereka yang luar biasa, bagaimana kecintaan mereka kapada Rasulullah, juga bagaimana kecintaan mereka kepada satu sama lain diantara para sahabat, kecintaan sahabat kepada ahlu bait-nya Rasulullah SAW.
Contohnya sahabat Bilal, bagaimana kecintaan beliau kepada Rasulullah. Pada waktu Rasulullah meninggal, langsung sahabat Bilal mengundurkan diri sebagai muadzin, sebab tidak sampai hati beliau mendengungkan kalimat Allahu akbar. Biasanya dilihat oleh Rasulullah dan sahabat lainnya, sementara pada saat itu Rasul telah mangkat. Sehingga bagaimana mungkin beliau bisa mengeluar¬kan suara sementara Rasulullah SAW yang selalu mendengar adzannya sudah tidak ada. Ketika mau adzan suaranya tidak mau keluar suaranya hilang. Karena apa? Sayidina Bilal Shock, karena mahabbah, kecintaan yang luar biasa kepada Rasulullah SAW. Sahabat Bilal bungkam, diam di Madinah sampai Rasulullah dimakamkan. Setelah Rasulullah SAW dimakamkan sahabat Bilal tidak betah. Lalu sahabat Bilal pindah ke Syam (Syiria).
Di Syam tadinya sahabat Bilal membayangkan akan mendapatkan sedikit ketenangan, tapi malah sebaliknya yang terjadi, terbayang wajahnya Rasulullah di mukanya terus, ahirnya ditemui oleh Rasulullah dalam mimpi. Ditanya oleh Rasulullah, ‘Bilal mengapa engkau tinggal ditempat yang jauh betul dari Aku, katanya engkau ingin dekat dengan Aku, mengapa kamu pundah ke Syam?’ Langsung hari itu juga Sahabat Bilal pulang ke Madinah Al Munawroh, begitu sahabat Bilal ziarah ke makam Rasulullah, Sayidina Abu Bakar mendengar Sayidina Umar mendengar, mereka langsung menemui sahabat Bilal. Dan ziarah bersama. Sayidina Abu Bakar menangis. ‘Hai Bilal kapan datang?’ Tanya Khalifah Abu Bakar.
Mereka menangis rangkul-rangkulan. Kemudain Sahabat Abu Bakar meminta sayidina Bilal untuk kembali mengumandangkan adzan di Madinah; ‘tolong dengung¬kan kembali adzanmu sebagaimana zaman Rasulullah.’ ‘Mulutku tidak bisa di buka,’ jawab Sayidina Bilal. Sayidina Umar yang juga meminta ke¬sediaan sahabat Bilal mendapat jawaban yang sama.
Akhirnya di sana ada 2 anak. Yang satu umurnya 9 tahun, yang satu umurnya 8 tahun, siapa mereka? Mereka adalah Imam Hasan dan Husain; dua orang cucu Nabi. Imam hasan dan Husain datang kepada Sahabat Bilal, begitu sahabat Bilal tahu, langsung menjemput kedatangan Imam Hasan dan Imam Husain. langsung dirangkul, begitu mencium kedua cucu Nabi, tambah sedih lagi sahabat Bilal, beliau kembali menangis. Karena apa? Keringat kedua anak ini tadi seperti keringat datuknya; baginda Nabi SAW. Luar biasa.
Akhirnya dua orang ini berbicara. ‘Ya Bilal’ kata Sayidina Hasan yang saat itu ditemani adiknya; Imam Husain; ‘Tolong kumandangkan kembali adzan, sebagaimana engkau lakukan pada zaman datukku baginda Rasulullah SAW’. Dari situlah sahabat Bilal luluh. ‘Kalau yang memerintah adalah dua anak ini, mana mungkin aku bisa menolak. Karena ini adalah sempalan dari darah daging Rasulullah SAW. Kalau saya menolak, nanti di akherat bagaimana bertemu dengan baginda Rasul SAW,’ pikir sahabat Bilal.
Kemudian sahabat Bilal naik ke menara menunaikan adzan, ketika sahabat Bilal adzan seluruh penduduk Madinah, tidak anak kecilnya, tidak orang dewasanya, semua keluar dari rumahnya masing-masing sambil mengatakan Rasulullah hidup kembali-Rasulullah hidup kembali. Karena apa, mendengar suaranya Bilal. Sebab ketika sahabat Bilal adzan selalu selalu pas dengan baginda Rasulullah SAW. Mereka semua keluar berduyun duyun mendengar suaranya Bilal ra.
Rabu, 21 September 2011
MENJAGA AKHLAK KEPADA ALLAH SWT.
Bismillaahirrohmaanirrohiim
Mudah-mudahan Allah SWT yang Maha Mengetahui siapa diri kita yang sebenarnya, menolong kita agar dapat mengetahui kekurangan yang harus diperbaiki, memberitahu jalan yang harus ditempuh, dan memberikan karunia semangat terus-menerus sehingga kita tidak dikalahkan oleh kemalasan, tidak dikalahkan oleh kebosanan, dan tidak dikalahkan oleh hawa nafsu. Dan mudah-mudahan pula warisan terbaik diri kita yang dapat diwariskan kepada keluarga, keturunan, dan lingkungan adalah keindahan akhlak kita. Karena ternyata keislaman seseorang tidak diukur oleh luasnya ilmu. Keimanan seseorang tidak diukur oleh hebatnya pembicaraan. Kedudukan di sisi Allah tidak juga diukur oleh kekuatan ibadahnya semata. Tapi semua kemuliaan seorang yang paling benar Islamnya, yang paling baik imannya, yang paling dicintai oleh Allah, yang paling tinggi kedudukannya dalam pandangan Allah dan yang akan menemani Rasulullah SAW ternyata sangat khas, yaitu orang yang paling mulia akhlaknya.
Walhasil sehebat apapun pengetahuan dan amal kita, sebanyak apapun harta kita, setinggi apapun kedudukan kita, jikalau akhlaknya rusak maka tidak bernilai. Kadang kita terpesona pada topeng duniawi tapi segera sesudah tahu akhlak buruknya, pesona pun akan pudar.
Yakinlah bahwa Rasulullah saw. diutus kedunia ini adalah untuk menyempurnakan akhlak. Hal ini ditanyakan sendiri oleh beliau ketika menjawab pertanyaan seorang sahabat, "Mengapa engkau diutus ke dunia ini ya Rasul?" Rasul menjawab, "innama buitsu liutamimma makarimal akhlak", "Sesungguhnya aku diutus ke dunia hanyalah utnuk menyempurnakan akhlak."
Sayangnya kalau kita mendengar kata akhlak seakan fokus pikiran kita hanya terbentuk pada senyuman dan keramahan. Padahal maksud akhlak yang sebenarnya jauh melampaui sekadar senyuman dan keramahan. Karenanya penjabaran akhlak dalam perilaku sehari-hari bukanlah suatu hal yang terpecah-pecah, semua terintegrasi dalam satu kesatuan utuh, termasuk bagian akhlak kita kepada Allah.
Akhlak kita kepada Allah SWT harus dipastikan benar-benar bersih. Orang yang menjaga akhlaknya kepada Allah, hatinya benar-benar putih seperti putihnya air susu yang tidak pernah tercampuri apapun. Bersih sebersih-bersihnya. Bersih keyakinannya, tidak ada sekutu lain selain Allah. Tidak ada satu tetes pun di hatinya meyakini kekuatan di alam semesta ini selain kekuatan Allah SWT sehingga ia sangat jauh dari sifat munafik.
Bagaimanakah sifat orang munafik itu? tokoh sufi Imam Al Ghazali menuturkan ucapan Imam Hatim Al Ashom (tokoh sufi yg masyhur di Khurasan, wafat 237 H.) ketika mengupas perbedaan antara orang mukmin dengan orang munafik :
"Seorang mukmin senantiasa disibukkan dengan bertafakur, merenung, mengambil pelajaran dari aneka kejadian apapun di muka bumi ini, sementara orang munafik disibukkan dengan ketamakan dan angan-angan kosong terhadap dunia ini.
Seorang mukmin berputus asa dari siapa saja dan kepada siapa saja kecuali hanya kepada Allah, sementara orang munafik mengharap dari siapa saja kecuali dari mengharap kepada Allah SWT.
Seorang mukmin merasa aman, tidak gentar, tidak takut oleh ancaman siapa pun kecuali takut hanya kepada Allah karena dia yakin bahwa apapun yang mengancam dia ada dalam genggaman Allah, di lain pihak orang munafik justru takut kepada siapa saja kecuali takut kepada Allah, naudzubillaah, yang tidak dia takuti malah Allah SWT.
Seorang mukmin menawarkan hartanya demi mempertahankan agamanya, sementara orang munafik menawarkan agamanya demi mempertahankan hartanya.
Seorang mukmin menangis karena malunya kepada Allah meskipun dia berbuat kebajikan, sementara orang munafik tetap tertawa meskipun dia berbuat keburukan.
Seorang mukmin senang berkhalwat dengan menyendiri bermunajat kepada Allah, sementara seorang munafik senang berkumpul dengan bersukaria bercampur baur dengan khalayak yang tidak ingat kepada Allah.
Seorang mukmin ketika menanam merasa takut jikalau merusak, sedangkan seorang munafik mencabuti seraya mengharapkan panen.
Seorang mukmin memerintahkan dan melarang sebagai siasat dan cara sehingga berhasil memperbaiki, larangan dan perintah seorang mukmin adalah upaya untuk memperbaiki, sementara seorang munafik memerintah dan melarang demi meraih jabatan dan kedudukan sehingga dia malah merusak, naudzubillaah."
wahai ikhwan dan akhwat. Nampak demikian jauh beda akhlak antara seorang mukmin dengan seorang munafik. Oleh karenanya kita harus benar-benar berusaha menjauhi perilaku-perilaku munafik seperti diuraikan di atas. Kita harus benar-benar mencegah diri kita untuk meyakini adanya penguasa yang menandingi kebesaran dan keagungan Allah. Kita harus yakin siapa pun yang punya jabatan di dunia ini hanyalah sekedar makhluk yang hidup sebentar dan bakal mati, seperti halnya kita juga. Jangan terperangah dan terpesona dengan kedudukan, pangkat, dan jabatan, sebab itu cuma tempelan sebentar saja, yang kalau tidak hati-hati justru itulah yang akan menghinakan dirinya.
alhamdulillaahirobbil'aalamiin
Mudah-mudahan Allah SWT yang Maha Mengetahui siapa diri kita yang sebenarnya, menolong kita agar dapat mengetahui kekurangan yang harus diperbaiki, memberitahu jalan yang harus ditempuh, dan memberikan karunia semangat terus-menerus sehingga kita tidak dikalahkan oleh kemalasan, tidak dikalahkan oleh kebosanan, dan tidak dikalahkan oleh hawa nafsu. Dan mudah-mudahan pula warisan terbaik diri kita yang dapat diwariskan kepada keluarga, keturunan, dan lingkungan adalah keindahan akhlak kita. Karena ternyata keislaman seseorang tidak diukur oleh luasnya ilmu. Keimanan seseorang tidak diukur oleh hebatnya pembicaraan. Kedudukan di sisi Allah tidak juga diukur oleh kekuatan ibadahnya semata. Tapi semua kemuliaan seorang yang paling benar Islamnya, yang paling baik imannya, yang paling dicintai oleh Allah, yang paling tinggi kedudukannya dalam pandangan Allah dan yang akan menemani Rasulullah SAW ternyata sangat khas, yaitu orang yang paling mulia akhlaknya.
Walhasil sehebat apapun pengetahuan dan amal kita, sebanyak apapun harta kita, setinggi apapun kedudukan kita, jikalau akhlaknya rusak maka tidak bernilai. Kadang kita terpesona pada topeng duniawi tapi segera sesudah tahu akhlak buruknya, pesona pun akan pudar.
Yakinlah bahwa Rasulullah saw. diutus kedunia ini adalah untuk menyempurnakan akhlak. Hal ini ditanyakan sendiri oleh beliau ketika menjawab pertanyaan seorang sahabat, "Mengapa engkau diutus ke dunia ini ya Rasul?" Rasul menjawab, "innama buitsu liutamimma makarimal akhlak", "Sesungguhnya aku diutus ke dunia hanyalah utnuk menyempurnakan akhlak."
Sayangnya kalau kita mendengar kata akhlak seakan fokus pikiran kita hanya terbentuk pada senyuman dan keramahan. Padahal maksud akhlak yang sebenarnya jauh melampaui sekadar senyuman dan keramahan. Karenanya penjabaran akhlak dalam perilaku sehari-hari bukanlah suatu hal yang terpecah-pecah, semua terintegrasi dalam satu kesatuan utuh, termasuk bagian akhlak kita kepada Allah.
Akhlak kita kepada Allah SWT harus dipastikan benar-benar bersih. Orang yang menjaga akhlaknya kepada Allah, hatinya benar-benar putih seperti putihnya air susu yang tidak pernah tercampuri apapun. Bersih sebersih-bersihnya. Bersih keyakinannya, tidak ada sekutu lain selain Allah. Tidak ada satu tetes pun di hatinya meyakini kekuatan di alam semesta ini selain kekuatan Allah SWT sehingga ia sangat jauh dari sifat munafik.
Bagaimanakah sifat orang munafik itu? tokoh sufi Imam Al Ghazali menuturkan ucapan Imam Hatim Al Ashom (tokoh sufi yg masyhur di Khurasan, wafat 237 H.) ketika mengupas perbedaan antara orang mukmin dengan orang munafik :
"Seorang mukmin senantiasa disibukkan dengan bertafakur, merenung, mengambil pelajaran dari aneka kejadian apapun di muka bumi ini, sementara orang munafik disibukkan dengan ketamakan dan angan-angan kosong terhadap dunia ini.
Seorang mukmin berputus asa dari siapa saja dan kepada siapa saja kecuali hanya kepada Allah, sementara orang munafik mengharap dari siapa saja kecuali dari mengharap kepada Allah SWT.
Seorang mukmin merasa aman, tidak gentar, tidak takut oleh ancaman siapa pun kecuali takut hanya kepada Allah karena dia yakin bahwa apapun yang mengancam dia ada dalam genggaman Allah, di lain pihak orang munafik justru takut kepada siapa saja kecuali takut kepada Allah, naudzubillaah, yang tidak dia takuti malah Allah SWT.
Seorang mukmin menawarkan hartanya demi mempertahankan agamanya, sementara orang munafik menawarkan agamanya demi mempertahankan hartanya.
Seorang mukmin menangis karena malunya kepada Allah meskipun dia berbuat kebajikan, sementara orang munafik tetap tertawa meskipun dia berbuat keburukan.
Seorang mukmin senang berkhalwat dengan menyendiri bermunajat kepada Allah, sementara seorang munafik senang berkumpul dengan bersukaria bercampur baur dengan khalayak yang tidak ingat kepada Allah.
Seorang mukmin ketika menanam merasa takut jikalau merusak, sedangkan seorang munafik mencabuti seraya mengharapkan panen.
Seorang mukmin memerintahkan dan melarang sebagai siasat dan cara sehingga berhasil memperbaiki, larangan dan perintah seorang mukmin adalah upaya untuk memperbaiki, sementara seorang munafik memerintah dan melarang demi meraih jabatan dan kedudukan sehingga dia malah merusak, naudzubillaah."
wahai ikhwan dan akhwat. Nampak demikian jauh beda akhlak antara seorang mukmin dengan seorang munafik. Oleh karenanya kita harus benar-benar berusaha menjauhi perilaku-perilaku munafik seperti diuraikan di atas. Kita harus benar-benar mencegah diri kita untuk meyakini adanya penguasa yang menandingi kebesaran dan keagungan Allah. Kita harus yakin siapa pun yang punya jabatan di dunia ini hanyalah sekedar makhluk yang hidup sebentar dan bakal mati, seperti halnya kita juga. Jangan terperangah dan terpesona dengan kedudukan, pangkat, dan jabatan, sebab itu cuma tempelan sebentar saja, yang kalau tidak hati-hati justru itulah yang akan menghinakan dirinya.
alhamdulillaahirobbil'aalamiin
Selasa, 13 September 2011
PESAN ROSULULLAH KEPADA PUTRINYA, FATHIMAH RODLIYALLAHU 'ANHAA
Bismillaahirrohmaanirrohiim
Suatu hari Rasulullah saw masuk ke rumah Sayyidah Fathimah ra. Ketika itu, Fathimah sudah berbaring untuk tidur. Rasulullah saw lalu berkata, "Wahai Fathimah, lâ tanâmi. Janganlah engkau tidur sebelum engkau lakukan empat hal; mengkhatam Al-Quran, memperoleh syafaat dari para nabi, membuat hati kaum mukminin dan mukminat senang dan rida kepadamu, serta melakukan haji dan umrah."
Fathimah bertanya, "Bagaimana mungkin aku melakukan itu semua sebelum tidur?"
Rasulullah saw menjawab, "Sebelum tidur, bacalah oleh kamu Qulhuwallâhu ahad tiga kali. Itu sama nilainya dengan mengkhatam Al-Quran." Yang dimaksud dengan Qul huwallâhu ahad adalah seluruh surat Al-Ikhlas, bukan ayat pertamanya saja. Dalam banyak hadis, seringkali suatu surat disebut dengan ayat pertamanya. Misalnya surat Al-Insyirah yang sering disebut dengan surat Alam nasyrah.
Rasulullah saw melanjutkan ucapannya, "Kemudian supaya engkau mendapat syafaat dariku dan para nabi sebelumku, bacalah shalawat:
Allâhumma shalli `alâ Muhammad wa `alâ âli Muhammad, kamâ shalayta `alâ Ibrâhim wa `alâ âli Ibrâhim. Allâhumma bârik `alâ Muhammad wa `alâ âli Muhammad, kamâ bârakta `alâ Ibrâhim wa `alâ âli Ibrâhim fil `âlamina innaka hamîdun majîd."
Kemudian supaya kamu memperoleh rasa rida dari kaum mukminin dan mukminat, supaya kamu disenangi oleh mereka, dan supaya kamu juga rida kepada mereka, bacalah istighfar bagi dirimu, orang tuamu, dan seluruh kaum mukminin dan mukminat."
Tidak disebutkan dalam hadis itu istighfar seperti apa yang harus dibaca. Yang jelas, dalam istighfar itu kita mohonkan ampunan bagi orang-orang lain selain diri kita sendiri.
Untuk apa kita memohon ampunan bagi orang lain? Agar kita tidur dengan membawa hati yang bersih, tidak membawa kebencian atau kejengkelan kepada sesama kaum muslimin. Kita mohonkan ampunan kepada Allah untuk semua orang yang pernah berbuat salah terhadap kita. Hal itu tentu saja tidak mudah. Sulit bagi kita untuk memaafkan orang yang pernah menyakiti hati kita. Bila kita tidur dengan menyimpan dendam, tanpa memaafkan orang lain, kita akan tidur dengan membawa penyakit hati. Bahkan mungkin kita tak akan bisa tidur. Sekalipun kita tidur, tidur kita akan memberikan mimpi buruk bagi kita. Penyakit hati itu akan tumbuh dan berkembang ketika kita tidur. Dari penyakit hati itulah lahir penyakit-penyakit jiwa dan penyakit-penyakit fisik.
Orang yang stress harus membiasakan diri memohonkan ampunan kepada Allah untuk orang-orang yang membuatnya stress sebelum ia beranjak tidur.
Dalam hadis itu tidak dicontohkan istighfar macam apa yang harus kita baca. Tapi ada satu istighfar yang telah dicontohkan oleh para ulama' setelah mereka selesai melaksanakan sholat, mereka membaca:
"Astaghfirullâhal azhîm lî wa lî wâlidayya wa lî ashâbil huqûqi wajibâti `alayya wal masyâikhina wal ikhwâninâ wa li jamî'il muslimîna wal muslimât wal mukminîna wal mukminât, al ahyâiminhum wal amwât.
Ya Allah, aku mohonkan ampunan pada-Mu bagi diriku dan kedua orang tuaku, bagi semua keluarga yang menjadi kewajiban bagiku untuk mengurus mereka. Ampuni juga guru-guru kami, saudara-saudara kami, muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat."
Bila kita amalkan istighfar itu sebelum tidur, paling tidak kita telah meminta ampun untuk orang tua kita. Istighfar kita, insya Allah, akan membuat orang tua kita di senang kepada kita. Istighfar itu pun akan menghibur mereka dalam perjalanan hidup mereka. Manfaat paling besar dari membaca istighfar adalah menentramkan tidur kita.
Nasihat terakhir dari Rasulullah saw kepada Fathimah adalah, "Sebelum tidur, hendaknya kamu lakukan haji dan umrah." Bagaimana caranya? Rasulullah saw bersabda, "Siapa yang membaca "subhânallâh wal hamdulillâh wa lâ ilâha ilallâh huwallâhu akbar" ia dinilai sama dengan orang yang melakukan haji dan umrah."
Menurut Rasulullah saw. barangsiapa yang membaca wirid itu lalu tertidur pulas, kemudian dia bangun kembali, Allah menghitung waktu tidurnya sebagai waktu berzikir sehingga orang itu dianggap sebagai orang yang berzikir terus menerus. Tidurnya bukanlah tidur ghaflah, tidur kelalaian, tapi tidur dalam keadaan berzikir. Sebetulnya, bila sebelum tidur kita membaca zikir, tubuh kita akan tertidur tapi ruh kita akan terus berzikir. Sekiranya orang itu terbangun di tengah tidurnya, niscaya dari mulut orang itu akan keluar zikir asma Allah.
Alhamdulillaahirobbil'aalamiin
Senin, 05 September 2011
TAWADLU'
Bismillaahirrohmaanirrohiim
Syaikh Abdul Qadir Jailani dalam kitabnya Futuh Al Ghaib mengatakan bahwa Tawadlu' adalah perasaan rendah hati seseorang.
Ketika engkau melihat orang lain, engkau mungkin bergumam, `Barang kali dia lebih baik dan lebih tinggi posisinya daripada aku di sisi Allah.'
Ketika engkau melihat yang lebih muda, engkau berujar, 'Dia belum bermaksiat kepada Allah, sementara aku telah bergelimang dosa. Dia lebih baik daripada aku.'
Bila bertemu dengan orang yang lebih tua, engkau berkata, Inilah hamba Allah yang lebih dahulu hidup di dunia ini sehingga lebih banyak ibadahnya dariku.'
Bila bertemu dengan orang berilmu, engkau berucap, ‘Orang ini mendapat anugerah yang tidak kudapat. Dia memperoleh apa yang tidak kuperoleh. Dia berilmu, sementara aku bodoh. Dia pun mengamalkan ilmunya.'
Jika bertemu dengan orang bodoh, engkau berkomentar, Dia bermaksiat kepada Allah karena tidak tahu, maka ampunan baginya. Sedangkan aku bermaksiat padahal aku tahu bahwa itu maksiat. Aku tidak tahu bagaimana hidupku berakhir dan tidak tahu pula bagaimana hidupnya berakhir.'
Jika seorang hamba telah seperti itu, dan semua itu keluar dari hatinya yang bening dan bersih (tidak dibuat-buat), maka dia akan selamat dari siksa Allah karena sifat tawadlu'nya. ^_^
Syarh dari pentahkik.
Saudaraku, Allah memerintahkanmu untuk tawadhuk. Lihatlah dalilnya bertebaran.
Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang – orang mukmin yang mengikutimu; (QS Asysu’ara : 215)
Barangsiapa yang bersikap tawadlu’ karena mencari ridho Allah maka Allah akan meninggikan derajatnya. Ia menganggap dirinya tiada berharga, namun dalam pandangan orang lain ia sangat terhormat. Barangsiapa yang menyombongkan diri maka Allah akan menghinakannya. Ia menganggap dirinya terhormat, padahal dalam pandangan orang lain ia sangat hina, bahkan lebih hina daripada anjing dan babi (HR. Al-Baihaqi)
Dari Iyadl bin Himar ra. Berkata Rasulullah saw.: “Sesungguhnya Allah telah memberi wahyu kepadaku yaitu kamu sekalian hendaklah bersikap tawadlu’ (merendahkan diri) sehingga tidak ada seseorang bersikap sombong kepada yang lain, dan tidak ada seseorang menganiaya yang lain. (HR. Muslim).
Syaikh ‘Abdullah Faiz ad-Daghestani berkata, “Mengapakah Nabi Muhammad saw., menjadi seseorang yang paling terpuji dan terhormat di Hadirat Ilahi? Karena beliau-lah yang paling rendah hati di antara seluruh ciptaan (makhluq) Allah.; Beliau selalu duduk seakan bagai seorang hamba di hadapan tuan pemiliknya, dan selalu pula makan sebagai seorang hamba atau pekerja yang makan di hadapan tuan pemiliknya. Beliau tak pernah duduk di atas meja.
Karena itulah, tak seorang pun mencapai kedudukan seperti beliau di Hadirat Ilahiah, tak seorang pun dihormati dan dipuji di Hadirat Ilahiah sebanyak Penutup para Nabi, Muhammad saw. Karena itulah, Allah SWT memberikan salam bagi beliau, dengan mengatakan: “As-Salaamu ‘Alayka Ayyuha an-Nabiyyu (“Keselamatan bagimu, wahai Nabi!);.
Allah SWT tidak mengatakan, “Keselamatan bagimu, wahai Muhammad;. Tidak!! Melainkan, “Keselamatan bagimu, Wahai Nabi!; Dan kita kini mengulangi salam dari Allah SWT. Bagi Nabi saw., tersebut minimal sembilan kali dalam shalat-shalat harian kita, saat kita melakukan tasyahhud.
Salam Ilahiah ini tidaklah dikaruniakan bagi siapa pun yang lain. Ini adalah puncak tertinggi suatu pujian dari Tuhan segenap alam bagi Nabi-Nya. Beliau telah mencapai suatu puncak tertinggi di mana tak seorang pun dapat mencapainya, semata karena kerendah hatiannya. Karena itu pula, beliau mewakili Keagungan Allah dalam seluruh ciptaan-Nya. Ego Sang Nabi telah habis dan berserah diri kepada Allah SWT.,
Mengapa ego kita selalu saja mendominasi gerak langkah kita? Bisa jadi, karena kita membiarkan setan mengajari diri kita dengan tipu muslihatnya. Kita diajari oleh setan, bagaimana menjadi orang yang terhormat atau menjadi orang yang pertama. Dan kita juga diajari oleh setan bagaimana memiliki ego seperti egonya Fir’aun, Namrudz, Qarun dan lain sebagainya. Karena itulah, setiap orang kini ingin mewakili egonya mereka, bukan untuk mewakili sang penutup para Nabi yaitu Nabi Muhammad saw.
Oleh karena itu, alangkah baiknya kalau kita menjadi wakil sang penutup para Nabi, bukan sebagai wakil-wakilnya setan yang menyesatkan, yang kesananya akan menjerumuskan kita kedalam azabnya Allah SWT dalam neraka-Nya. Maka, untuk menjadi orang yang mewakili sang penutup para Nabi, kita harus memiliki akhlak seperti beliau, yang salah satunya adalah tawadlu’ (rendah hati). Karena sifat ini telah diwahyukan oleh Allah SWT kepada beliau supaya orang-orang tidak bersikap sombong kepada yang lain.
Alhamdulillaahirobbil'aalamiin
Syaikh Abdul Qadir Jailani dalam kitabnya Futuh Al Ghaib mengatakan bahwa Tawadlu' adalah perasaan rendah hati seseorang.
Ketika engkau melihat orang lain, engkau mungkin bergumam, `Barang kali dia lebih baik dan lebih tinggi posisinya daripada aku di sisi Allah.'
Ketika engkau melihat yang lebih muda, engkau berujar, 'Dia belum bermaksiat kepada Allah, sementara aku telah bergelimang dosa. Dia lebih baik daripada aku.'
Bila bertemu dengan orang yang lebih tua, engkau berkata, Inilah hamba Allah yang lebih dahulu hidup di dunia ini sehingga lebih banyak ibadahnya dariku.'
Bila bertemu dengan orang berilmu, engkau berucap, ‘Orang ini mendapat anugerah yang tidak kudapat. Dia memperoleh apa yang tidak kuperoleh. Dia berilmu, sementara aku bodoh. Dia pun mengamalkan ilmunya.'
Jika bertemu dengan orang bodoh, engkau berkomentar, Dia bermaksiat kepada Allah karena tidak tahu, maka ampunan baginya. Sedangkan aku bermaksiat padahal aku tahu bahwa itu maksiat. Aku tidak tahu bagaimana hidupku berakhir dan tidak tahu pula bagaimana hidupnya berakhir.'
Jika seorang hamba telah seperti itu, dan semua itu keluar dari hatinya yang bening dan bersih (tidak dibuat-buat), maka dia akan selamat dari siksa Allah karena sifat tawadlu'nya. ^_^
Syarh dari pentahkik.
Saudaraku, Allah memerintahkanmu untuk tawadhuk. Lihatlah dalilnya bertebaran.
Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang – orang mukmin yang mengikutimu; (QS Asysu’ara : 215)
Barangsiapa yang bersikap tawadlu’ karena mencari ridho Allah maka Allah akan meninggikan derajatnya. Ia menganggap dirinya tiada berharga, namun dalam pandangan orang lain ia sangat terhormat. Barangsiapa yang menyombongkan diri maka Allah akan menghinakannya. Ia menganggap dirinya terhormat, padahal dalam pandangan orang lain ia sangat hina, bahkan lebih hina daripada anjing dan babi (HR. Al-Baihaqi)
Dari Iyadl bin Himar ra. Berkata Rasulullah saw.: “Sesungguhnya Allah telah memberi wahyu kepadaku yaitu kamu sekalian hendaklah bersikap tawadlu’ (merendahkan diri) sehingga tidak ada seseorang bersikap sombong kepada yang lain, dan tidak ada seseorang menganiaya yang lain. (HR. Muslim).
Syaikh ‘Abdullah Faiz ad-Daghestani berkata, “Mengapakah Nabi Muhammad saw., menjadi seseorang yang paling terpuji dan terhormat di Hadirat Ilahi? Karena beliau-lah yang paling rendah hati di antara seluruh ciptaan (makhluq) Allah.; Beliau selalu duduk seakan bagai seorang hamba di hadapan tuan pemiliknya, dan selalu pula makan sebagai seorang hamba atau pekerja yang makan di hadapan tuan pemiliknya. Beliau tak pernah duduk di atas meja.
Karena itulah, tak seorang pun mencapai kedudukan seperti beliau di Hadirat Ilahiah, tak seorang pun dihormati dan dipuji di Hadirat Ilahiah sebanyak Penutup para Nabi, Muhammad saw. Karena itulah, Allah SWT memberikan salam bagi beliau, dengan mengatakan: “As-Salaamu ‘Alayka Ayyuha an-Nabiyyu (“Keselamatan bagimu, wahai Nabi!);.
Allah SWT tidak mengatakan, “Keselamatan bagimu, wahai Muhammad;. Tidak!! Melainkan, “Keselamatan bagimu, Wahai Nabi!; Dan kita kini mengulangi salam dari Allah SWT. Bagi Nabi saw., tersebut minimal sembilan kali dalam shalat-shalat harian kita, saat kita melakukan tasyahhud.
Salam Ilahiah ini tidaklah dikaruniakan bagi siapa pun yang lain. Ini adalah puncak tertinggi suatu pujian dari Tuhan segenap alam bagi Nabi-Nya. Beliau telah mencapai suatu puncak tertinggi di mana tak seorang pun dapat mencapainya, semata karena kerendah hatiannya. Karena itu pula, beliau mewakili Keagungan Allah dalam seluruh ciptaan-Nya. Ego Sang Nabi telah habis dan berserah diri kepada Allah SWT.,
Mengapa ego kita selalu saja mendominasi gerak langkah kita? Bisa jadi, karena kita membiarkan setan mengajari diri kita dengan tipu muslihatnya. Kita diajari oleh setan, bagaimana menjadi orang yang terhormat atau menjadi orang yang pertama. Dan kita juga diajari oleh setan bagaimana memiliki ego seperti egonya Fir’aun, Namrudz, Qarun dan lain sebagainya. Karena itulah, setiap orang kini ingin mewakili egonya mereka, bukan untuk mewakili sang penutup para Nabi yaitu Nabi Muhammad saw.
Oleh karena itu, alangkah baiknya kalau kita menjadi wakil sang penutup para Nabi, bukan sebagai wakil-wakilnya setan yang menyesatkan, yang kesananya akan menjerumuskan kita kedalam azabnya Allah SWT dalam neraka-Nya. Maka, untuk menjadi orang yang mewakili sang penutup para Nabi, kita harus memiliki akhlak seperti beliau, yang salah satunya adalah tawadlu’ (rendah hati). Karena sifat ini telah diwahyukan oleh Allah SWT kepada beliau supaya orang-orang tidak bersikap sombong kepada yang lain.
Alhamdulillaahirobbil'aalamiin
Kamis, 01 September 2011
WAHAI PENCARI TUHAN JANGAN KAU RISAUKAN SEDIKITNYA AMALMU...!!!!!!!!!!
Oleh: Ustadz Ishak
Pengantar :
Tulisan ini sebenarnya jawabanku, atas pertanyaan seorang rekan di multiply. Mengenai ma’rifat dan ketidakmampuan ma'rifat menghantarkan seorang salik (orang yang berjalan menuju Allah) kepada Allah. Materi ini terlalu panjang kalau ditulis di comment, dan kurang berelasi dengan malah inti tulisanku, di mana rekanku bertanya. Karena itu sengaja aku membuat tulisan ini secara khusus.
Walaupun demikian, tak ada salahnya dibaca. Walaupun pembaca bukan pelaku, dan tidak merasakan pahit getir dan sulitnya orang yang menempuh perjalanan menuju Allah (pesuluk / salik), namun paling tidak dapat tulisan ini dapat bermanfaat sebagai pengetahuan.
Peringatan :
Pada bagian judul sudah jelas bahwa secara spesifik saya menujukan tulisan ini bagi orang-orang yang sedang melakukan pencarian kepada Allah (salik) yang penuh harapnya kepada Allah. Tulisan ini, bukan bagi golongan lain atau golongan yang masih “awam” kepada Allah. Mengapa demikian ?
Ketika orang awam membaca kalimat, “Jangan Kau Risaukan Sedikitnya Amalmu...”. Maka mereka justru akan diam dan semakin sedikitlah amal kebaikan dan ketaatan mereka. Adapun para salik biasanya mereka akan terus beramal taat, merindukan dan berharap untuk dapat sampai kepada Allah apapun yang terjadi.
Bagi para salik, tingkatan kesempurnaan ketaatan ibadah mereka kepada Allah hanya dibatasi oleh keterbatasan kemampuan fisik manusiawi mereka. Dalam hal ini, Kalaupun mereka menginginkan dengan sangat untuk bersembah dan bersujud kepada Allah tak terhitung jam dan malam, mereka dipaksa untuk berhadapan dengan rasa capek dan kebutuhan untuk tidur. Itulah yang saya maksud dengan kemampuan fisik mereka membatasi kesempurnaan ketaatan ibadah mereka.
Kerinduan para salik kepada Allah biasanya begitu membuncah menggebu-gebu dan menggelisahkan, tak tertahankan. Tetapi kekurangan-kekurangan dan ketidaksempurnaan manusiawi mereka dalam melakukan ketaatan dan beribadah, atau keterbatasan mereka dalam memakrifati Allah, biasanya mereka “anggap” sebagai batu penghalang. Padahal tidaklah demikian halnya.
Mengapa demikian halnya ? Paling tidak inilah 4 alasan yang dapat dikemukakan.
Ya Allah, lindungi pikiranku dan jariku yang kupakai untuk mengetik dan dari setan. Dengan namamu ya Allah (semoga aku tak termasuk yang membocorkan ilmu rahasia-Mu.....)
1. Amal Mereka Membuat Allah Ridha
Bagi para salik, mereka lakukan amal ibadah agar Allah melihat ketaatan mereka, kemudian meridai mereka. Keridaan itu akan menghasilkan anugerah dan kasih sayang Allah berupa ampunan terhadap kekurangan-kekurangan sang salik dalam melakukan ketaatan dan ibadah mereka. Selain itu keridaan Allah kepada mereka akan membuat Allah melipat gandakan anugerah-Nya bagi sang salik.
Sungguh amal-amalan tak akan mampu menghantarkan seseorang kepada Allah. Yang dapat menghantarkan adalah kasih sayang dan keridaan Allah kepadanya, berdasarkan amal ketaatan yang dilakukannya.
Masih teringat jelas dalam ingatan bahwa ada seorang yang beribadah secara intensif dan terus menerus kepada Allah selama 300 tahun. Selama itu pula ia berpuasa. Ketika ia meninggal, Allah berkata malaikat, “Malaikat, masukan dia ke surga karena Rahmat-Ku.” Orang itu protes, “Karena amalku ya Allah.” Allah kemudian mengulangi perkataannya, “Malaikat, masukan dia ke surga karena Rahmat-Ku.” Orang itu protes lagi, “Karena amalku ya Allah.” Kemudian Allah berkata, “Baiklah jika kau memaksa, wahai malaikat, timbanglah seluruh amalnya.” Setelah ditimbang oleh malaikat, ternyata ibadah intensif dan puasanya selama 300 tahun ternyata hanya mampu membayar kenikmatan dia diberi sebelah mata oleh Allah. Berkatalah Allah, “Malaikat, masukkan dia ke neraka, karena dia mengingkari rahmat-Ku”. Barulah orang itu sadar, bahwa kasih sayang Allah-lah yang menghantarkannya ke surga, bukan amalnya. Kemudian ia berkata, “Wahai Allah, ampuni Aku. Sungguh kasih sayangmu kepadaku lebih besar dari ibadah ketaatan yang kulakukan untuk-Mu.” Orang itu baru menyadari bahwa makrifatnya adalah pemberian Allah. Tenaga yang dipakainya untuk beribadah berasal dari Allah. Keinginan untuk bertaat juga berasal dari Allah, dan Allah juga telah menghilangkan seluruh perintang-perintang ketaatannya dan melindunginya dari setan. Lantas dapatkah seorang hamba meng-klaim ibadahnya sebagai hasil usahanya, jika seluruh bahan pembentuk ibadah itu seluruhnya berasal dari Allah juga ? Sungguh seluruh buah yang dihasilkan adalah milik Sang Penanam, walaupun secara dzahir, pohonlah yang melahirkannya.
Bukankah engkau sudah tahu bahwa ma’rifat itu adalah anugerah Allah yang diberikan kepadamu. Lalu apakah amalan-amalan yang kau lakukan itu adalah hadiah yang engkau berikan kepada-Nya darimu ? Di manakah letak kesetaran antara hadiah yang engkau berikan kepada-Nya dengan anugerah yang diberikannya kepadamu ?
Atau...
Bagaimanakah mungkin engkau meminta upah berupa surga atas ibadah yang kau lakukan kepada Allah, sedangkan Allah sama sekali tidak membutuhkan ibadahmu. Banyaknya ibadahmu tak memberikan manfaat sama sekali kepada Allah. Seluruh ibadahmu adalah untuk kepentinganmu, bukan untuk kepentingan Allah. Kalaupun kau tak beribadah, Allah tak kan pernah bergeming dari arsy-Nya.
Demikian pula, bagaimanakah engkau akan meminta upah “terhindar dari neraka” atas pencegahan terhadap dosa yang kau lakukan, sedangkan kekafiranmu tidak menyebabkan kemadhorotan / kerugian terhadap Allah ?
Bila engkau sangat memerlukan kemegahan dan keindahan yang ada dalam batu intan permata sedangkan uang di kantongmu hanya Rp. 500. Sungguh engkau tidak akan dapat membeli permata itu seharga 500, kecuali atas kemurahan, kasih sayang dan persahabatanmu dengan pemilik permata.
Andaikan ketaatanmu tak sempurna. Banyak cela di sana dan disini. Sehingga dengannya engkau malu untuk meminta surga, atau, sehingga dengannya engkau malu untuk meminta kepada Allah agar terhindar dari neraka, maka bertawakallah kepada kemahapenyayangan, kemahapegasihan, kemahapemaafan Allah kepada umatnya dan berharaplah kebaikan-kebaikan yang dihasilkan dari persahabatanmu dengan-Nya dan banyaknya pertemuan wajah (muwajahah) dengan-Nya.
Syaikh Ibn Athoillah mengatakan, siapa yang menyangka bahwa ia dapat sampai kepada Allah dengan perantaraan sesuatu selain Allah (dalam hal ini ibadahnya), pasti akan putus karenanya. Dan siapa saja yang menyandarkan ibadahnya kepada (kekuatan) dirinya sendiri, maka ia tidak akan dapat mencapai bagian-bagian yang hanya diperuntukkan Allah bagi hamba-Nya yang menyandarkan ibadahnya kepada ketakwaan (akan pemberian kasih sayang dan anugerah Allah).
2. Allah Menyayangi Mereka Dengan Bala’ (bencana / petaka / cobaan)
Beraneka warna amal perbuatan, karena bermacam-macam pula kurnia Allah yang diberikan kepada hambanya. Jika amal-amal ketaatan si hamba belum cukup untuk menghantarkannya kepada keridaan Allah, maka Allah akan menurunkan bala’ (petaka) untuknya.
Diriwayatkan bahwa Allah telah menurunkan wahyu kepada seorang nabi, “Aku telah menurunkan bala’ (ujian) kepada seorang hamba, maka sang hamba berdoa, dan tetap Aku tunda permintaannya. Akhirnya sang hamba mengeluh. Maka Aku berkata kepadanya : Hambaku, bagaimana aku akan melepaskan dari mu bala’ku, sedangkan di dalam bala’ku terkandung rahmat-Ku yang dapat melejitkan engkau kepada-Ku, di mana kekuatan bala’ itu untuk memberikan lejitan, tidak akan bisa dicapai dengan ketaatan dan ibadahmu.
3. Bagi hamba yang mengetahui bahwa Tuhannya maha pengampun, kemudian mereka memohon ampun, maka Allah Mengampuni Mereka
Sebenarnya sempurnalah kasih sayang Allah kepada umatnya. Ketika DIA mengetahui kekurangan-kekurangan dan keterbatasan si hamba dalam melakukan ketaatan, maka DIA menyediakan jalan-jalan lain bagi si hamba untuk bertemu dengan-Nya. Salah satunya adalah dengan mengampuni semua kekurangan-kekurangan (ketidaksempurnaan) dalam ibadah taat sang hamba.
4. Allah menarik mereka yang dicintai-Nya, untuk menuju kepada-Nya.
Orang-orang shalih yang menuju kepada Allah telah mendapatkan hidayah dengan cahaya yang merupakan amalan untuk taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah.
Sedangkan orang-orang yang telah sampai, mereka ditarik oleh oleh nur (cahaya) yang langsung dari Allah, bukan hasil dari ibadah, tapi semata-mata karunia rahmat Allah. (Syaikh Ibn Athoillah)
Dengan demikian, orang-orang shalih menuju ke alam nur, sedangkan yang telah sampai di alam nur, mereka berkecimpung di dalam nur. Sebab orang yang telah sampai itu telah bersih dari segala sesuatu selain Allah.
Jika kelemahan fisikmu, kerapuhan tulangmu dan kelembutan kulitmu tak mampu menghantarmu untuk berziarah sampai kepada Allah, maka bermohonlah agar DIA sudi menjemputmu dan menarikmu ke haribaan-Nya.
Kesimpulan :
Memakrifati zat yang tak terbatas dan tak terdefinisikan akan menyebabkan ilmu makrifat kepada Allah juga tak bertepi. Jangan hiraukan engkau ada di mana. Teruslah maju. Ini bukanlah terminal akhirmu......
Bila Allah telah membukakan jalan ma’rifat kepadamu, janganlah engkau hiraukan lagi sedikitnya amalanmu. Sebab Dia tidak akan menyingkapkannya kepadamu, kecuali Dia hanya berkehendak untuk memperlihatkan anugerahnya kepadamu. (Syaikh Ibn Athoillah)
Di antara tanda-tanda keberhasilan dalam menempuh perjalanan menuju kepada Allah adalah kembali bertawakal kepada Allah pada awal mula perjalanannya (bidayah). Dan barang siapa tercerahkan pada permulaannya, maka akan tercerahkan pula akhirnya (nihayah).
Keberhasilan seseorang di awal perjalanannya kepada Allah akan hadir, manakala ia bertawakal kepada Allah, bukan pada amalan yang dilakukan oleh dirinya.
Apa-apa yang tersembunyi dalam rahasia ghaib yang berupa nur Ilahi dan makrifat, pasti akan tampak bekas pengaruhnya pada anggota lahir. Barang siapa adab kesopanan lahirnya baik, maka itu menjadi bukti adanya adab di dalam batin.
Ya Allah saksikanlah bahwa aku tak menyembunyikan atau menjual ilmu yang berasal dari-Mu. Ya Allah, telah kusampaikan. Ya Allah, Engkau menjadi saksi.
Pengantar :
Tulisan ini sebenarnya jawabanku, atas pertanyaan seorang rekan di multiply. Mengenai ma’rifat dan ketidakmampuan ma'rifat menghantarkan seorang salik (orang yang berjalan menuju Allah) kepada Allah. Materi ini terlalu panjang kalau ditulis di comment, dan kurang berelasi dengan malah inti tulisanku, di mana rekanku bertanya. Karena itu sengaja aku membuat tulisan ini secara khusus.
Walaupun demikian, tak ada salahnya dibaca. Walaupun pembaca bukan pelaku, dan tidak merasakan pahit getir dan sulitnya orang yang menempuh perjalanan menuju Allah (pesuluk / salik), namun paling tidak dapat tulisan ini dapat bermanfaat sebagai pengetahuan.
Peringatan :
Pada bagian judul sudah jelas bahwa secara spesifik saya menujukan tulisan ini bagi orang-orang yang sedang melakukan pencarian kepada Allah (salik) yang penuh harapnya kepada Allah. Tulisan ini, bukan bagi golongan lain atau golongan yang masih “awam” kepada Allah. Mengapa demikian ?
Ketika orang awam membaca kalimat, “Jangan Kau Risaukan Sedikitnya Amalmu...”. Maka mereka justru akan diam dan semakin sedikitlah amal kebaikan dan ketaatan mereka. Adapun para salik biasanya mereka akan terus beramal taat, merindukan dan berharap untuk dapat sampai kepada Allah apapun yang terjadi.
Bagi para salik, tingkatan kesempurnaan ketaatan ibadah mereka kepada Allah hanya dibatasi oleh keterbatasan kemampuan fisik manusiawi mereka. Dalam hal ini, Kalaupun mereka menginginkan dengan sangat untuk bersembah dan bersujud kepada Allah tak terhitung jam dan malam, mereka dipaksa untuk berhadapan dengan rasa capek dan kebutuhan untuk tidur. Itulah yang saya maksud dengan kemampuan fisik mereka membatasi kesempurnaan ketaatan ibadah mereka.
Kerinduan para salik kepada Allah biasanya begitu membuncah menggebu-gebu dan menggelisahkan, tak tertahankan. Tetapi kekurangan-kekurangan dan ketidaksempurnaan manusiawi mereka dalam melakukan ketaatan dan beribadah, atau keterbatasan mereka dalam memakrifati Allah, biasanya mereka “anggap” sebagai batu penghalang. Padahal tidaklah demikian halnya.
Mengapa demikian halnya ? Paling tidak inilah 4 alasan yang dapat dikemukakan.
Ya Allah, lindungi pikiranku dan jariku yang kupakai untuk mengetik dan dari setan. Dengan namamu ya Allah (semoga aku tak termasuk yang membocorkan ilmu rahasia-Mu.....)
1. Amal Mereka Membuat Allah Ridha
Bagi para salik, mereka lakukan amal ibadah agar Allah melihat ketaatan mereka, kemudian meridai mereka. Keridaan itu akan menghasilkan anugerah dan kasih sayang Allah berupa ampunan terhadap kekurangan-kekurangan sang salik dalam melakukan ketaatan dan ibadah mereka. Selain itu keridaan Allah kepada mereka akan membuat Allah melipat gandakan anugerah-Nya bagi sang salik.
Sungguh amal-amalan tak akan mampu menghantarkan seseorang kepada Allah. Yang dapat menghantarkan adalah kasih sayang dan keridaan Allah kepadanya, berdasarkan amal ketaatan yang dilakukannya.
Masih teringat jelas dalam ingatan bahwa ada seorang yang beribadah secara intensif dan terus menerus kepada Allah selama 300 tahun. Selama itu pula ia berpuasa. Ketika ia meninggal, Allah berkata malaikat, “Malaikat, masukan dia ke surga karena Rahmat-Ku.” Orang itu protes, “Karena amalku ya Allah.” Allah kemudian mengulangi perkataannya, “Malaikat, masukan dia ke surga karena Rahmat-Ku.” Orang itu protes lagi, “Karena amalku ya Allah.” Kemudian Allah berkata, “Baiklah jika kau memaksa, wahai malaikat, timbanglah seluruh amalnya.” Setelah ditimbang oleh malaikat, ternyata ibadah intensif dan puasanya selama 300 tahun ternyata hanya mampu membayar kenikmatan dia diberi sebelah mata oleh Allah. Berkatalah Allah, “Malaikat, masukkan dia ke neraka, karena dia mengingkari rahmat-Ku”. Barulah orang itu sadar, bahwa kasih sayang Allah-lah yang menghantarkannya ke surga, bukan amalnya. Kemudian ia berkata, “Wahai Allah, ampuni Aku. Sungguh kasih sayangmu kepadaku lebih besar dari ibadah ketaatan yang kulakukan untuk-Mu.” Orang itu baru menyadari bahwa makrifatnya adalah pemberian Allah. Tenaga yang dipakainya untuk beribadah berasal dari Allah. Keinginan untuk bertaat juga berasal dari Allah, dan Allah juga telah menghilangkan seluruh perintang-perintang ketaatannya dan melindunginya dari setan. Lantas dapatkah seorang hamba meng-klaim ibadahnya sebagai hasil usahanya, jika seluruh bahan pembentuk ibadah itu seluruhnya berasal dari Allah juga ? Sungguh seluruh buah yang dihasilkan adalah milik Sang Penanam, walaupun secara dzahir, pohonlah yang melahirkannya.
Bukankah engkau sudah tahu bahwa ma’rifat itu adalah anugerah Allah yang diberikan kepadamu. Lalu apakah amalan-amalan yang kau lakukan itu adalah hadiah yang engkau berikan kepada-Nya darimu ? Di manakah letak kesetaran antara hadiah yang engkau berikan kepada-Nya dengan anugerah yang diberikannya kepadamu ?
Atau...
Bagaimanakah mungkin engkau meminta upah berupa surga atas ibadah yang kau lakukan kepada Allah, sedangkan Allah sama sekali tidak membutuhkan ibadahmu. Banyaknya ibadahmu tak memberikan manfaat sama sekali kepada Allah. Seluruh ibadahmu adalah untuk kepentinganmu, bukan untuk kepentingan Allah. Kalaupun kau tak beribadah, Allah tak kan pernah bergeming dari arsy-Nya.
Demikian pula, bagaimanakah engkau akan meminta upah “terhindar dari neraka” atas pencegahan terhadap dosa yang kau lakukan, sedangkan kekafiranmu tidak menyebabkan kemadhorotan / kerugian terhadap Allah ?
Bila engkau sangat memerlukan kemegahan dan keindahan yang ada dalam batu intan permata sedangkan uang di kantongmu hanya Rp. 500. Sungguh engkau tidak akan dapat membeli permata itu seharga 500, kecuali atas kemurahan, kasih sayang dan persahabatanmu dengan pemilik permata.
Andaikan ketaatanmu tak sempurna. Banyak cela di sana dan disini. Sehingga dengannya engkau malu untuk meminta surga, atau, sehingga dengannya engkau malu untuk meminta kepada Allah agar terhindar dari neraka, maka bertawakallah kepada kemahapenyayangan, kemahapegasihan, kemahapemaafan Allah kepada umatnya dan berharaplah kebaikan-kebaikan yang dihasilkan dari persahabatanmu dengan-Nya dan banyaknya pertemuan wajah (muwajahah) dengan-Nya.
Syaikh Ibn Athoillah mengatakan, siapa yang menyangka bahwa ia dapat sampai kepada Allah dengan perantaraan sesuatu selain Allah (dalam hal ini ibadahnya), pasti akan putus karenanya. Dan siapa saja yang menyandarkan ibadahnya kepada (kekuatan) dirinya sendiri, maka ia tidak akan dapat mencapai bagian-bagian yang hanya diperuntukkan Allah bagi hamba-Nya yang menyandarkan ibadahnya kepada ketakwaan (akan pemberian kasih sayang dan anugerah Allah).
2. Allah Menyayangi Mereka Dengan Bala’ (bencana / petaka / cobaan)
Beraneka warna amal perbuatan, karena bermacam-macam pula kurnia Allah yang diberikan kepada hambanya. Jika amal-amal ketaatan si hamba belum cukup untuk menghantarkannya kepada keridaan Allah, maka Allah akan menurunkan bala’ (petaka) untuknya.
Diriwayatkan bahwa Allah telah menurunkan wahyu kepada seorang nabi, “Aku telah menurunkan bala’ (ujian) kepada seorang hamba, maka sang hamba berdoa, dan tetap Aku tunda permintaannya. Akhirnya sang hamba mengeluh. Maka Aku berkata kepadanya : Hambaku, bagaimana aku akan melepaskan dari mu bala’ku, sedangkan di dalam bala’ku terkandung rahmat-Ku yang dapat melejitkan engkau kepada-Ku, di mana kekuatan bala’ itu untuk memberikan lejitan, tidak akan bisa dicapai dengan ketaatan dan ibadahmu.
3. Bagi hamba yang mengetahui bahwa Tuhannya maha pengampun, kemudian mereka memohon ampun, maka Allah Mengampuni Mereka
Sebenarnya sempurnalah kasih sayang Allah kepada umatnya. Ketika DIA mengetahui kekurangan-kekurangan dan keterbatasan si hamba dalam melakukan ketaatan, maka DIA menyediakan jalan-jalan lain bagi si hamba untuk bertemu dengan-Nya. Salah satunya adalah dengan mengampuni semua kekurangan-kekurangan (ketidaksempurnaan) dalam ibadah taat sang hamba.
4. Allah menarik mereka yang dicintai-Nya, untuk menuju kepada-Nya.
Orang-orang shalih yang menuju kepada Allah telah mendapatkan hidayah dengan cahaya yang merupakan amalan untuk taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah.
Sedangkan orang-orang yang telah sampai, mereka ditarik oleh oleh nur (cahaya) yang langsung dari Allah, bukan hasil dari ibadah, tapi semata-mata karunia rahmat Allah. (Syaikh Ibn Athoillah)
Dengan demikian, orang-orang shalih menuju ke alam nur, sedangkan yang telah sampai di alam nur, mereka berkecimpung di dalam nur. Sebab orang yang telah sampai itu telah bersih dari segala sesuatu selain Allah.
Jika kelemahan fisikmu, kerapuhan tulangmu dan kelembutan kulitmu tak mampu menghantarmu untuk berziarah sampai kepada Allah, maka bermohonlah agar DIA sudi menjemputmu dan menarikmu ke haribaan-Nya.
Kesimpulan :
Memakrifati zat yang tak terbatas dan tak terdefinisikan akan menyebabkan ilmu makrifat kepada Allah juga tak bertepi. Jangan hiraukan engkau ada di mana. Teruslah maju. Ini bukanlah terminal akhirmu......
Bila Allah telah membukakan jalan ma’rifat kepadamu, janganlah engkau hiraukan lagi sedikitnya amalanmu. Sebab Dia tidak akan menyingkapkannya kepadamu, kecuali Dia hanya berkehendak untuk memperlihatkan anugerahnya kepadamu. (Syaikh Ibn Athoillah)
Di antara tanda-tanda keberhasilan dalam menempuh perjalanan menuju kepada Allah adalah kembali bertawakal kepada Allah pada awal mula perjalanannya (bidayah). Dan barang siapa tercerahkan pada permulaannya, maka akan tercerahkan pula akhirnya (nihayah).
Keberhasilan seseorang di awal perjalanannya kepada Allah akan hadir, manakala ia bertawakal kepada Allah, bukan pada amalan yang dilakukan oleh dirinya.
Apa-apa yang tersembunyi dalam rahasia ghaib yang berupa nur Ilahi dan makrifat, pasti akan tampak bekas pengaruhnya pada anggota lahir. Barang siapa adab kesopanan lahirnya baik, maka itu menjadi bukti adanya adab di dalam batin.
Ya Allah saksikanlah bahwa aku tak menyembunyikan atau menjual ilmu yang berasal dari-Mu. Ya Allah, telah kusampaikan. Ya Allah, Engkau menjadi saksi.
Senin, 29 Agustus 2011
RENUNGAN (BETAPA SUSAHNYA AMALAN BATHIN)
Bismillaahirrohmaanirrohiim
1. Ketika kita sembahyang, lahirnya kita berdiri, rukuk dan sujud dengan mulut komat-kamit memuji dan berdoa kpd Allah, tetapi sebenarnya di manakah hati kita (ingatan dan fikiran)? Adakah ia juga menghadap Allah, khusyuk dan tawadhuk serta merasa rendah dan hina diri dengan penuh pengabdian dan harapan serta malu dan takut kepada Allah swt? Atau adakah hati kita terbang menerawang ke mana-mana tempat dengan berpaling pada Allah Yang Maha Agung yang sedang disembah? Begitu juga ketika kita membaca Al-Quran, berselawat, berzikir, dan sebagainya lagi... adakah roh kita turut menghayatinya?
2. Pernahkah kita merasa indah bila bersendirian di tempat sunyi karena berdzikir pada Allah dan memberikan sepenuh perhatian kita kepadaNya, merasa rendah dan hina diri, menyesali dosa dan kelalaian, mengingatiNya sambil berazam untuk memperbanyak amal sholeh demi mendapat ridhoNya?
3. Kalau ada orang Islam yang ditimpa bencana dan berada dalam penderitaan, adakah hati kita merasa belas kasihan untuk membantu atau mendoakan dari jauh agar mereka mendapat pertolongan dari Allah?
4. Pernahkah kita menghitung dosa kita, lahir dan batin? Bila teringatkan dosa-dosa kita, apakah mudah untuk kita menangis menyesali diri sambil memohon ampunan Allah dan bertaubat kepadaNya?
5. Apakah kita sentiasa ingat pada mati yang akan datang beberapa saat saja lagi? Sebab Allahlah yg Maha Menghidupkan juga yg Maha Mematikan. Jadi ketika umur ini masih ada, apakah kita berusaha mencari jalan untuk mendekatkan diri kita kepadaNya?
6. Pernahkah kita hitung berapa banyak harta kita, duit kita, rumah kita, kereta kita, perabot kita, piring dan mangkuk kita, kain baju kita, makanan kita, dan lain-lain kepunyaan kita yang melebihi dari keperluan kita sendiri (yang halal)? Karena mana yang berlebihan itu akan dihisab, ditanya, dicerca, dan dihina oleh Allah di padang Mahsyar nanti apabila kita lebih sibuk menambah urusan dunia dan meremehkan akhirat?
7. Pernahkah kita merenung siapa2 saja orang-orang yang pernah kita kasari, umpat, tipu, fitnah, hina, kutuk, dan aniaya bisa kepada suami, isteri, ibu bapak, saudara , sahabat , tetangga dan siapa saja, supaya kita bisa meminta maaf dan membersihkan dosa dengan manusia di dunia ini lagi tanpa menunggu hari yg dahsyat? dan Senangkah kita untuk memaafkan kesalahan orang lain dan apakah kita mudah untuk terus meminta maaf bila bersalah?
8. Apabila kita sakit karena merupakan ujian dari Allah, dapatkah kita tenangkan hati kita dengan rasa kesabaran dan kesadaran bahwa sakit adalah kifarah dosa (pengampunan dosa) atau sebagai peningkat derajat dan pangkat di sisi Allah swt?
9. Ketika menerima takdir yang kita rasakan tidak sesuai dengan kehendak kita, dapatkah kita merasa ridha bahwa itu adalah satu pemberian dari Allah yang terbaik untuk kita?
10. Di waktu mendapat nikmat, terasakah di hati bahwa itu adalah pemberian dari Allah, lalu timbul rasa terima kasih kepada Allah dan rasa takut kalau-kalau ia tidak dapat digunakan di jalan Allah dan berazam untuk menggunakan nikmat itu demi Allah jua?
11. Kalau ada orang yang mengatakan atau mencerca kita di belakang kita, dapatkah hati kita merasa tenang lalu kita diamkan saja (tanpa rasa sakit dan susah hati serta dendam) bahkan kita memaafkan orang itu sambil mendoakan kebaikan untuknya sebab merasakan ia telah memberikan pahala kepada kita melalui cercaannya itu?
12. Begitu juga kalau orang menipu, menganiaya dan mencuri harta kita, mampukah kita relakan saja atas dasar kita mendapat pahala menanggung kerugian itu?
13. Kalau orang lain mendapat kesenangan dan kejayaan, dapatkah kita merasa gembira dan turut bersyukur serta mengharapkan kekalnya nikmat itu bersamanya tanpa ada rasa dengki dan sakit hati dengan kejayaan org itu?
14. Sanggupkah kita berbagi dengan orang lain di waktu orang itu memerlukan sesuatu yang kita juga perlukan?
15. Apakah kita merasa puas dan cukup dengan apa yang ada tanpa mengharapkan apa yang tidak ada?
Susah agaknya untuk kita menjawab persoalan2 di atas dengan jawaban2 yang seharusnya karena memang susah bagi insan biasa seperti kita untuk benar-benar menyempurnakan amalan batin. Walau bagaimanapun kita seharusnya menyimpan niat di hati kita dan seterusnya bersungguh-sungguh bermujahadah untuk menyuburkan amalan-amalan batin kita kerana amalan batin adalah lebih penting dari amalan lahir.
Rasulullah saw bersabda :
"Allah tidak memandang rupa dan harta kamu, tetapi Dia memandang hati dan amalan kamu." (Hadits Riwayat Muslim)
Marilah kita terus belajar memperbaiki diri untuk membersihkan dosa lahir dan batin kita. Mari kita bermujahadah untuk itu. Mudah-mudahan Allah menolong dan meridhai kita. Aamiin Allaahumma Aamiin
Firman Allah:
"Dan mereka yang bermujahadah kepada jalan Kami, niscaya Kami tunjukkan jalan-jalan Kami itu. Sesungguhnya Allah berserta dengan orang-orang yang berbuat baik." (Surah Al-Ankabut: ayat 69)
Alhamdulillaahirobbil'aalamiin
1. Ketika kita sembahyang, lahirnya kita berdiri, rukuk dan sujud dengan mulut komat-kamit memuji dan berdoa kpd Allah, tetapi sebenarnya di manakah hati kita (ingatan dan fikiran)? Adakah ia juga menghadap Allah, khusyuk dan tawadhuk serta merasa rendah dan hina diri dengan penuh pengabdian dan harapan serta malu dan takut kepada Allah swt? Atau adakah hati kita terbang menerawang ke mana-mana tempat dengan berpaling pada Allah Yang Maha Agung yang sedang disembah? Begitu juga ketika kita membaca Al-Quran, berselawat, berzikir, dan sebagainya lagi... adakah roh kita turut menghayatinya?
2. Pernahkah kita merasa indah bila bersendirian di tempat sunyi karena berdzikir pada Allah dan memberikan sepenuh perhatian kita kepadaNya, merasa rendah dan hina diri, menyesali dosa dan kelalaian, mengingatiNya sambil berazam untuk memperbanyak amal sholeh demi mendapat ridhoNya?
3. Kalau ada orang Islam yang ditimpa bencana dan berada dalam penderitaan, adakah hati kita merasa belas kasihan untuk membantu atau mendoakan dari jauh agar mereka mendapat pertolongan dari Allah?
4. Pernahkah kita menghitung dosa kita, lahir dan batin? Bila teringatkan dosa-dosa kita, apakah mudah untuk kita menangis menyesali diri sambil memohon ampunan Allah dan bertaubat kepadaNya?
5. Apakah kita sentiasa ingat pada mati yang akan datang beberapa saat saja lagi? Sebab Allahlah yg Maha Menghidupkan juga yg Maha Mematikan. Jadi ketika umur ini masih ada, apakah kita berusaha mencari jalan untuk mendekatkan diri kita kepadaNya?
6. Pernahkah kita hitung berapa banyak harta kita, duit kita, rumah kita, kereta kita, perabot kita, piring dan mangkuk kita, kain baju kita, makanan kita, dan lain-lain kepunyaan kita yang melebihi dari keperluan kita sendiri (yang halal)? Karena mana yang berlebihan itu akan dihisab, ditanya, dicerca, dan dihina oleh Allah di padang Mahsyar nanti apabila kita lebih sibuk menambah urusan dunia dan meremehkan akhirat?
7. Pernahkah kita merenung siapa2 saja orang-orang yang pernah kita kasari, umpat, tipu, fitnah, hina, kutuk, dan aniaya bisa kepada suami, isteri, ibu bapak, saudara , sahabat , tetangga dan siapa saja, supaya kita bisa meminta maaf dan membersihkan dosa dengan manusia di dunia ini lagi tanpa menunggu hari yg dahsyat? dan Senangkah kita untuk memaafkan kesalahan orang lain dan apakah kita mudah untuk terus meminta maaf bila bersalah?
8. Apabila kita sakit karena merupakan ujian dari Allah, dapatkah kita tenangkan hati kita dengan rasa kesabaran dan kesadaran bahwa sakit adalah kifarah dosa (pengampunan dosa) atau sebagai peningkat derajat dan pangkat di sisi Allah swt?
9. Ketika menerima takdir yang kita rasakan tidak sesuai dengan kehendak kita, dapatkah kita merasa ridha bahwa itu adalah satu pemberian dari Allah yang terbaik untuk kita?
10. Di waktu mendapat nikmat, terasakah di hati bahwa itu adalah pemberian dari Allah, lalu timbul rasa terima kasih kepada Allah dan rasa takut kalau-kalau ia tidak dapat digunakan di jalan Allah dan berazam untuk menggunakan nikmat itu demi Allah jua?
11. Kalau ada orang yang mengatakan atau mencerca kita di belakang kita, dapatkah hati kita merasa tenang lalu kita diamkan saja (tanpa rasa sakit dan susah hati serta dendam) bahkan kita memaafkan orang itu sambil mendoakan kebaikan untuknya sebab merasakan ia telah memberikan pahala kepada kita melalui cercaannya itu?
12. Begitu juga kalau orang menipu, menganiaya dan mencuri harta kita, mampukah kita relakan saja atas dasar kita mendapat pahala menanggung kerugian itu?
13. Kalau orang lain mendapat kesenangan dan kejayaan, dapatkah kita merasa gembira dan turut bersyukur serta mengharapkan kekalnya nikmat itu bersamanya tanpa ada rasa dengki dan sakit hati dengan kejayaan org itu?
14. Sanggupkah kita berbagi dengan orang lain di waktu orang itu memerlukan sesuatu yang kita juga perlukan?
15. Apakah kita merasa puas dan cukup dengan apa yang ada tanpa mengharapkan apa yang tidak ada?
Susah agaknya untuk kita menjawab persoalan2 di atas dengan jawaban2 yang seharusnya karena memang susah bagi insan biasa seperti kita untuk benar-benar menyempurnakan amalan batin. Walau bagaimanapun kita seharusnya menyimpan niat di hati kita dan seterusnya bersungguh-sungguh bermujahadah untuk menyuburkan amalan-amalan batin kita kerana amalan batin adalah lebih penting dari amalan lahir.
Rasulullah saw bersabda :
"Allah tidak memandang rupa dan harta kamu, tetapi Dia memandang hati dan amalan kamu." (Hadits Riwayat Muslim)
Marilah kita terus belajar memperbaiki diri untuk membersihkan dosa lahir dan batin kita. Mari kita bermujahadah untuk itu. Mudah-mudahan Allah menolong dan meridhai kita. Aamiin Allaahumma Aamiin
Firman Allah:
"Dan mereka yang bermujahadah kepada jalan Kami, niscaya Kami tunjukkan jalan-jalan Kami itu. Sesungguhnya Allah berserta dengan orang-orang yang berbuat baik." (Surah Al-Ankabut: ayat 69)
Alhamdulillaahirobbil'aalamiin
Sabtu, 27 Agustus 2011
MERINDUKAN WAJAH-WAJAH MULIA
Oleh : Habib Abdullah bin Husein bin Thohi al-Alawy
Orang-orang yang dekat dengan Allah SWT adalah magnet yang bisa menarik siapa saja yang berada di sekitar mereka untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Bagai berdaya listrik, mereka mampu mengisi ulang setiap iman yang cahayanya mulai redup akibat timbunan dosa-dosa. Beruntung sekali bila kita berkesempatan bertemu dengan orang-orang pilihan ini. Kita akan bisa memperbaharui energi iman kita dengan memandang wajahnya dan mendengarkan nasehat-nasehat yang mengalir dari lisannya.
Habib Abdullah bin Husein bin Thahir al-Alawiy mengingatkan kita akan pentingnya berdekatan dengan ulama-ulama yang saleh. Berikut nasehat beliau kepada kita yang disampaikan sekitar dua ratus tahun lampau.
Ketahuilah, sesuatu yang paling mujarab untuk mempercantik hati, memancing ampunan atas dosa-dosa, menepis kegundahan hati, dan mengundang segala kesenangan rohani, adalah menghadiri majelis para wali, shalihin, alim ulama berhati khusyuk yang mengamalkan pengetahuannya, serta para ahli ibadah yang memiliki sifat zuhud.
Merekalah manusia-manusia yang bila kita pandang akan mampu mengingatkan siapa saja kepada Allah SWT. Gerak-gerik mereka senantiasa membangkitkan gairah kita untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ucapan-ucapan mereka mampu menggiring kita kepada rahmat-Nya. Cahaya mereka menaungi siapa saja yang ada di dekat mereka. Akhlak mereka yang indah akan menulari akhlak-akhlak kita. Amal-amal mereka yang hebat membuat nafsu kita merasa kerdil, dan yang terutama, berkah mereka akan dapat kita raih baik di kehidupan ini maupun di alam yang akan datang.
Dekat dengan mereka adalah suatu fadhilah besar. Memandang mereka bernilai ibadah. Cinta kepada mereka akan membuahkan keberuntungan. Siapa yang duduk di dekat mereka bakal memetik cahaya kebahagiaan dan meneguk tetesan rasa cinta.
Kapankah diriku ‘kan memandang mereka
Aduhai, kapankah mata ini menatap mereka
Atau telinga ini mendengar kabar tentang mereka?
Barangsiapa dikaruniai kesempatan untuk bisa duduk bersama atau sekadar memandang mereka, maka seyogyanya ia meyakini bahwa kesempatan itu adalah karunia teragung dalam rentang usia hidupnya. Hendaklah ia memanfaatkan kesempatan itu sebaik mungkin dan melazimkan diri untuk selalu berada di dekat mereka dengan perasaan cinta, hormat, husnuddzon, tatakrama yang baik lahir maupun bathin. Raihlah manfaat dan berkah mereka. Teladanilah mereka. Setiap insan kelak akan dikumpulkan bersama siapa yang ia cintai. Baik buruknya seseorang tergantung pada pergaulannya.
Merekalah penabur hidayah di tengah manusia, sungguh beruntung siapa yang memandang mereka
Dan duduk di dekat mereka walau sejenak di sepanjang usia hidupnya
Merekalah suatu kaum yang menjadi hasratku
Dan haluanku di antara hamba-hamba-Nya
Cinta kepada mereka telah bersemi di relung hatiku
Mereka penyandang makrifat, kebeningan kalbu dan budi pekerti
Ada baiknya kita bercermin kepada anjing Ashabul Kahfi yang dengan setia menemani para wali-Nya. Berkat selalu bersama mereka, anjing itu menjadi beruntung hingga disebut bersama mereka di dalam Al-Quran, dan kelak ia akan dikumpulkan bersama mereka di dalam surga.
Perhatikanlah kertas sampul yang menempel pada Al-Quran itu. Ia menjadi mulia dan tak boleh disentuh kecuali oleh mereka yang telah bersuci, berkat menempel pada Kalamullah. Begitulah gambaran dalam berkawan dan bergaul.
Baginda Nabi SAW bersabda, “Perumpamaan kawan yang saleh itu seperti penjual minyak misik. Kamu bakal diolesi minyak itu dengan cuma-cuma, atau kamu membelinya. Minimal kamu mencium aroma harum darinya.”
Syeikh Fadhal pernah berujar, “Barangsiapa melaksanakan shalat dengan bermakmum kepada orang yang telah mendapat ampunan, maka dosanya diampuni pula. Barangsiapa bersantap makan bersama seseorang yang telah mendapat ampunan, maka dosanya pun diampuni. Dan barangsiapa duduk bersama orang-orang saleh, maka gairahnya pada kebaikan akan bertambah.”
Junjungan kita, Habib Ahmad bin Zein al-Habsyi bertutur, “Kefahaman adalah cahaya yang menyala di dalam hati. Karunia itu hanya akan diperoleh oleh mereka yang kerap duduk bersama orang-orang saleh dan tekun menelaah kitab-kitab mereka.”
TATA KRAMA
Ketahuilah, banyak sekali manfaat yang akan dipetik oleh mereka yang senantiasa bergaul dengan kaum shalihin dengan sikap yang penuh adab, dalam tingkah laku fisik maupun hati. semua keutamaan terpendam di dalam tatakrama. Andai tatakrama tidak diindahkan, maka yang berlaku adalah apa yang pernah diucapkan seorang bijak, “Tidaklah penolakan (dari rahmat) itu kamu dapatkan bila kamu tidak ditakdirkan dekat dengan kaum shalihin. Tapi penolakan itu niscaya kamu dapatkan bila kamu ditakdirkan dekat dengan mereka namun kamu tidak bertatakrama kepada mereka.”
Andai kita tidak memiliki atau jarang berkesempatan berada di dekat orang-orang saleh, maka berhati-hatilah, jangan sampai kita terjerumus ke dalam pergaulan yang salah, yakni berkumpul dengan orang-orang yang lalai dan fasik. Kembalilah mengenang sejarah hidup kaum shalihin berikut kondisi dan amal-amal mereka. Bacalah kitab-kitab dan wasiat-wasiat mereka, juga kasidah-kasidah dan hikayat tentang perilaku zuhud, wara’, qana’ah, khumul (menjauhi ketenaran) yang mereka terapkan, serta ibadah dan akhlak mereka yang luar-biasa.
Dengan mengenang mereka, maka rahmat Allah SWT akan mengalir deras kepada kita. “Bila dirimu tak berkesempatan menjumpai mereka, maka di dalam kalam mereka terkandung sinar yang mampu menghidupkan hati dan sanubari,” begitulah kata sebagian orang bijak.
Sayangnya, yang begitu dominan di zaman kita sekarang ini adalah cerita tentang kekejian dan para pelakunya. Saat ini orang lebih asyik menyimak omong kosong, gosip murahan, adu domba, berita kriminal dan asusila. Mereka tak lagi tertarik pada kisah orang-orang saleh dan ilmu-ilmu yang bermanfaat. Bahkan, mereka enggan untuk sekadar bertanya mengenai urusan agama mereka kepada ulama.
Sumber : www.cahayanabawiyonline.com
Orang-orang yang dekat dengan Allah SWT adalah magnet yang bisa menarik siapa saja yang berada di sekitar mereka untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Bagai berdaya listrik, mereka mampu mengisi ulang setiap iman yang cahayanya mulai redup akibat timbunan dosa-dosa. Beruntung sekali bila kita berkesempatan bertemu dengan orang-orang pilihan ini. Kita akan bisa memperbaharui energi iman kita dengan memandang wajahnya dan mendengarkan nasehat-nasehat yang mengalir dari lisannya.
Habib Abdullah bin Husein bin Thahir al-Alawiy mengingatkan kita akan pentingnya berdekatan dengan ulama-ulama yang saleh. Berikut nasehat beliau kepada kita yang disampaikan sekitar dua ratus tahun lampau.
Ketahuilah, sesuatu yang paling mujarab untuk mempercantik hati, memancing ampunan atas dosa-dosa, menepis kegundahan hati, dan mengundang segala kesenangan rohani, adalah menghadiri majelis para wali, shalihin, alim ulama berhati khusyuk yang mengamalkan pengetahuannya, serta para ahli ibadah yang memiliki sifat zuhud.
Merekalah manusia-manusia yang bila kita pandang akan mampu mengingatkan siapa saja kepada Allah SWT. Gerak-gerik mereka senantiasa membangkitkan gairah kita untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ucapan-ucapan mereka mampu menggiring kita kepada rahmat-Nya. Cahaya mereka menaungi siapa saja yang ada di dekat mereka. Akhlak mereka yang indah akan menulari akhlak-akhlak kita. Amal-amal mereka yang hebat membuat nafsu kita merasa kerdil, dan yang terutama, berkah mereka akan dapat kita raih baik di kehidupan ini maupun di alam yang akan datang.
Dekat dengan mereka adalah suatu fadhilah besar. Memandang mereka bernilai ibadah. Cinta kepada mereka akan membuahkan keberuntungan. Siapa yang duduk di dekat mereka bakal memetik cahaya kebahagiaan dan meneguk tetesan rasa cinta.
Kapankah diriku ‘kan memandang mereka
Aduhai, kapankah mata ini menatap mereka
Atau telinga ini mendengar kabar tentang mereka?
Barangsiapa dikaruniai kesempatan untuk bisa duduk bersama atau sekadar memandang mereka, maka seyogyanya ia meyakini bahwa kesempatan itu adalah karunia teragung dalam rentang usia hidupnya. Hendaklah ia memanfaatkan kesempatan itu sebaik mungkin dan melazimkan diri untuk selalu berada di dekat mereka dengan perasaan cinta, hormat, husnuddzon, tatakrama yang baik lahir maupun bathin. Raihlah manfaat dan berkah mereka. Teladanilah mereka. Setiap insan kelak akan dikumpulkan bersama siapa yang ia cintai. Baik buruknya seseorang tergantung pada pergaulannya.
Merekalah penabur hidayah di tengah manusia, sungguh beruntung siapa yang memandang mereka
Dan duduk di dekat mereka walau sejenak di sepanjang usia hidupnya
Merekalah suatu kaum yang menjadi hasratku
Dan haluanku di antara hamba-hamba-Nya
Cinta kepada mereka telah bersemi di relung hatiku
Mereka penyandang makrifat, kebeningan kalbu dan budi pekerti
Ada baiknya kita bercermin kepada anjing Ashabul Kahfi yang dengan setia menemani para wali-Nya. Berkat selalu bersama mereka, anjing itu menjadi beruntung hingga disebut bersama mereka di dalam Al-Quran, dan kelak ia akan dikumpulkan bersama mereka di dalam surga.
Perhatikanlah kertas sampul yang menempel pada Al-Quran itu. Ia menjadi mulia dan tak boleh disentuh kecuali oleh mereka yang telah bersuci, berkat menempel pada Kalamullah. Begitulah gambaran dalam berkawan dan bergaul.
Baginda Nabi SAW bersabda, “Perumpamaan kawan yang saleh itu seperti penjual minyak misik. Kamu bakal diolesi minyak itu dengan cuma-cuma, atau kamu membelinya. Minimal kamu mencium aroma harum darinya.”
Syeikh Fadhal pernah berujar, “Barangsiapa melaksanakan shalat dengan bermakmum kepada orang yang telah mendapat ampunan, maka dosanya diampuni pula. Barangsiapa bersantap makan bersama seseorang yang telah mendapat ampunan, maka dosanya pun diampuni. Dan barangsiapa duduk bersama orang-orang saleh, maka gairahnya pada kebaikan akan bertambah.”
Junjungan kita, Habib Ahmad bin Zein al-Habsyi bertutur, “Kefahaman adalah cahaya yang menyala di dalam hati. Karunia itu hanya akan diperoleh oleh mereka yang kerap duduk bersama orang-orang saleh dan tekun menelaah kitab-kitab mereka.”
TATA KRAMA
Ketahuilah, banyak sekali manfaat yang akan dipetik oleh mereka yang senantiasa bergaul dengan kaum shalihin dengan sikap yang penuh adab, dalam tingkah laku fisik maupun hati. semua keutamaan terpendam di dalam tatakrama. Andai tatakrama tidak diindahkan, maka yang berlaku adalah apa yang pernah diucapkan seorang bijak, “Tidaklah penolakan (dari rahmat) itu kamu dapatkan bila kamu tidak ditakdirkan dekat dengan kaum shalihin. Tapi penolakan itu niscaya kamu dapatkan bila kamu ditakdirkan dekat dengan mereka namun kamu tidak bertatakrama kepada mereka.”
Andai kita tidak memiliki atau jarang berkesempatan berada di dekat orang-orang saleh, maka berhati-hatilah, jangan sampai kita terjerumus ke dalam pergaulan yang salah, yakni berkumpul dengan orang-orang yang lalai dan fasik. Kembalilah mengenang sejarah hidup kaum shalihin berikut kondisi dan amal-amal mereka. Bacalah kitab-kitab dan wasiat-wasiat mereka, juga kasidah-kasidah dan hikayat tentang perilaku zuhud, wara’, qana’ah, khumul (menjauhi ketenaran) yang mereka terapkan, serta ibadah dan akhlak mereka yang luar-biasa.
Dengan mengenang mereka, maka rahmat Allah SWT akan mengalir deras kepada kita. “Bila dirimu tak berkesempatan menjumpai mereka, maka di dalam kalam mereka terkandung sinar yang mampu menghidupkan hati dan sanubari,” begitulah kata sebagian orang bijak.
Sayangnya, yang begitu dominan di zaman kita sekarang ini adalah cerita tentang kekejian dan para pelakunya. Saat ini orang lebih asyik menyimak omong kosong, gosip murahan, adu domba, berita kriminal dan asusila. Mereka tak lagi tertarik pada kisah orang-orang saleh dan ilmu-ilmu yang bermanfaat. Bahkan, mereka enggan untuk sekadar bertanya mengenai urusan agama mereka kepada ulama.
Sumber : www.cahayanabawiyonline.com
Minggu, 21 Agustus 2011
KAJIAN KITAB IHYA' 'ULUMUDDIN (EMPAT GOLONGAN YANG TERTIPU/GHURUR)
Orang-orang salaf dahulu sangat berhati-hati sekali dalam ketaqwaan. Sangat menjauhi kesyubhatan-kesyubhatan (apalagi yang haram). Mereka seringkali menangis, sebab menyesali dirinya sendiri yang tentu tidak luput dari dosa. Ini biasa terjadi saat mereka merenung dalam kesunyian atau kesendirian, Lalu bagaimana dengan diri kita??? yang tingkat ketaqwaan juga tingkat keilmuan sangat jauh dibanding ulama'-ulama' salaf, para ulama' mampu menyusun beberapa kitab dan tetap digunakan sampai sekarang, dan mereka pun orang-orang yang sangat tawadlu', tapi bagaimana dengan diri kita yang tinggal membaca dan memahami karya-karya mereka saja yang kadang masih kesulitan, tapi mengapa sudah merasa paling hebat dan mudah menyalahkan yang lain???Sungguh kebanyakan kita adalah golongan orang-orang yang tertipu, semoga dengan kajian Kitab Ihya' Ulumuddin ini, kita semua bisa muhasabah dan menjadikan diri kita lebih baik dari sebelumnya ^_^ Aamiin Allaahumma Aamiin ^_^
Ghurur adalah penyakit hati yang menimpa banyak orang di dunia ini, ghurur menurut bahasa artinya adalah tertipu daya, penyakit ghurur ini telah di jelaskan oleh Imam Ghazali dengan panjang luas sekali di dalam kitabnya “Ihya` Ulumuddin “
Penyakit ghurur ini sangat membahayakan sekali sebab kebanyakan orang yang menderitanya tidak merasa bahwa mereka terserang penyakit ghurur ini, kita tidak membicarakan ghururnya orang-orang kafir terhadap diri mereka atau kehidupan dunia ini, tetapi kita membicarakan penyakit ghurur yang diderita oleh umat Islam selama ini.
Imam Ghazali telah membagi ghurur ini kepada empat golongan :
1. Golongan ulama.
2. Golongan para Abid ( orang yang suka beribadah).
3. Golongan orang yang mengaku sufi.
4. Golongan orang yang memiliki harta , dan orang-orang tetipu daya dengan dunia.
1. Golongan ulama.
Penyakit ghurur ini tidak terlepas dari hati seorang ulama, bahayanya jika mereka tidak mengetahui bahwa mereka telah terkena virus ghurur yang membahayakan, akhirnya tidak secepatnya untuk mengobati penyakit itu, penyakit ghurur ini menyerang dengan cepat sehingga si penderita "mati" dari rasa harapan dan kesadaran diri kepada Allah.
Seorang yang alim merasa bahwa ilmu itu adalah mulia, mengajarkannya kepada orang adalah perkara yang mulia pula, maka dia lalai dan tertipu daya dengan sibuk mengajarkan ilmu tanpa membekalkan amal ibadah dan mengamalkannya terlebih dahulu sebelum disampaikan kepada orang lain, ini adalah penyakit ghurur.
Seorang yang alim merasa memiliki ilmu sehingga beliau merasa bahwa dirinya mesti di hormati dan disegani, ingin selalu dikedepankan dan di ketengahkan, keinginannya agar seluruh perkatannya didengar, seluruh perkataannya benar, ingin diangkat-angkat dan dipuja-puja, setiap orang mesti mencium tangannya, ini adalah penyakit ghurur.
Seorang ulama yang alim dengan ilmu syari`at dan selalu mengamalkannya kemudian mengajarkannya kepada orang lain, tetapi beliau tidak memahami ilmu makrifat kepada Allah, dengan alasan bahwa tidak ada ilmu tersebut, maka ini juga bagian dari orang yang memilki penyakit ghurur.
Seorang yang berhasil mengamalkan ilmunya , menjauhkan anggota tubuhnya dari segala maksiat, melaksanakan segala amalan ta`at, tetapi lupa membersihkan dirinya dan hatinya dari segala maksiat hati seperti hasad, riya`, takabbur, ini juga orang yang terserang penyakit ghurur.
Seorang ulama yang mengamalkan segala ta`at dan menjauhkan segala maksiat, beliau merasa bahwa dirinya bersih dan dekat dengan Allah, maka ini juga penyakit ghurur, sebab Allah lebih mengetahui keadaan hati para hambanya.
Seorang ulama yang sibuk dengan berjidal, berdebat, bukan untuk mencari kebenaran tetapi untuk mencari ketenaran dan kehebatan, bila mampu mengalahkan lawan maka dia tergolong orang yang hebat dan alim, ini juga tergolong penyakit ghurur.
Seorang ulama yang selalu berdakwah dan berceramah dengan menyampaikan untaian kata-kata yang indah, dapat menarik perhatian para pendengar, sehingga mendatangkan peminat-peminat yang banyak, pengikut yang setia, lupa dengan tujuan dakwah yang sebenarnya, sibuk hanya mencari ketenaran dan nama, penyakit ini juga tergolong ghurur.
2. Golongan 'Abid.
Kegiatan ibadah juga dapat membawa seseorang tertipu daya dengan diri sendiri sehingga bukan menjadikan diri semakin dekat dengan Allah bahkan membuat diri menjadi jauh, diantara contohnya :
Seseorang yang sibuk dengan ibadah-ibadah sunnah dan fadhilah tetapi melupakan dan meninggalkan ibadah-ibadah wajib, seperti sibuk melaksanakan shalat sunnah malam tetapi meninggalkan shalat subuh karena ketiduran dan kelelahan ketika waktu malamnya atau senang dengan sholat tarawih tapi masih punya hutang sholat fardlu/belum diqodlo'.
Orang yang sibuk mengambil air wudhu` dan berlebih-lebihan di dalam membasuhnya disebabkan was-was yang datang didalam hati mengkabarkan bahwa wudhu`nya tidak sah, penyakit was-was yang menimpa pada setiap ibadah merupakan bagian ghurur juga.
Seseorang yang terlalu sibuk membaca al-Qur`an, tetapi tanpa mau memikirkan dan memahami segala makna-maknanya, sehingga tidak memahami apa maksud atau penjelasan-penjelasan dari yang ia baca setiap hari.
Seseorang yang sibuk dengan puasa setiap harinya, tetapi lidahnya selalui menceritakan aib orang lain, tidak pernah menjauhkan hatinya dari riya` dan penyakit-penyakit hati, puasanya selalu dibuka dengan makanan-makanan yang haram.
Seseorang yang menunaikan ibadah haji hanya karena ingin digelar dengan haji, tidak mengikhlaskan diri untuk melaksanakan amal ibadah haji, tidak meninggalkan segala kejahatan-kejahatan, melaksanakan ibadah haji agar dipandang orang dan dianggap orang kaya.
Seseorang yang mengamalkan Ibadah sunnah dan fadhilah merasakan ibadah tersebut nikmat dan lezat, mendapatkan ke khusyu'an, tetapi jika melaksanakan ibadah yang wajib dan fardhu tidak merasakan kenikmatan dan kekhyusu'an.
Seseorang yang melaksanakan zuhud dan ibadah , bertaubat dan berzikir, merasakan bahwa dia telah sampai kepda derajat kezuhudan, telah sampai kepda derajat makrifah kepada Allah, padahal hatinya masih tersimpan segudang kecintaan terhadap dunia, mengaharap pangkat dan kedudukan, mengharap pujian dan penghormatan.
3. Golongan orang yang mengaku sufi.
Seseorang yang mengaku sufi, menggunakan pakaian-pakaian tertentu, bergaya dengan gaya ulama-ulama sufi, berzikir dengan menari dan nyanyian-nyanyian pemenuh hawa nafsu, menganggap diri telah sampai kepada Allah, menganggap mendapat ilham dan kasyaf. inilah termasuk mereka yang tertipu/ghurur.
Seorang yang mengaku sufi, merasa telah berbuat zuhud dan wara`, memakai pakaian yang usang dan bau, mementingkan bersih hati, tetapi segala anggota tubuh kotor dengan maksiat dan dosa. ini adalah penyakit ghurur
Seseorang yang mengaku sufi, tetapi tidak mengikuti jalan para ulama-ulama pembesar sufi seperti Imam Abu Qosim al-Junaidi al-Baghdadi dan yang lainnya, mengaku telah sampai kepada fana` fillah dan baqa fi llah , tidak menjadikan al-Qur`an dan sunnah sebagai pegangan, menghina syariat dan memuja-muja hakikat. ini adalah penyakit ghurur
4. Golongan orang yang memiliki harta dan orang yang tertipu daya dengan dunia.
Seseorang yang menganggap bahwa harta dan uangnya yang mampu menyelamatkannya dan memuliakannya di permukaan dunia ini, harta merupakan pujaan dan ketinggian, memiliki harta berarti memiliki kebesaran dan kesenangan yang hakiki, sehingga lupa membayar zakat, menyantuni orang miskin, dan bisa berbuat sesuka hatinya. ini adalah penyakit ghurur
Seseorang yang membangun masjid, menyantun anak yatim, membantu korban bencana alam, tetapi ingin di puji dan di besar-besarkan kebaikannya, agar orang menyanjungnya dan menggelarnya seorang yang dermawan. ini adalah penyakit ghurur
dengan memahami hal yang demikian, semoga kita semua tidak termasuk golongan orang-orang yang terkena penyakit ghurur (tipu daya) penyakit yang menjadikan seorang hamba jauh dari ridlo Allah Ta'ala
Senin, 15 Agustus 2011
10 KEUTAMAAN DARI SIKAP MUDAH MEMAAFKAN
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
"Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah, bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" (QS. an-Nur [24]: 22)
Pertama, dapat menyelesaikan perselisihan atau perseteruan. Perselisihan atau perseteruan mungkin timbul lantaran ada pihak yang melakukan perbuatan aniaya dan pihak lain merasa teraniaya. Jika pihak yang bersalah tidak mau meminta maaf, dan pihak yang merasa teraniaya juga enggan memaafkannya, maka perselisihan tersebut akan sulit diselesaikan. Tetapi dengan adanya sifat pemaaf niscaya perselisihan dan perseteruan tersebut dapat didamaikan.
Kedua, dapat menghilangkan rasa benci, dengki dan dendam. Benci, dengki dan dendam mungkin timbul karena suatu perseteruan yang belum bisa diselesaikan, lalu mendorong pihak-pihak yang berseteru untuk melakukan balas dendam, mencederai dan menghancurkan pihak lawan. Jika masing-masing pihak berlapangdada serta dengan tulus mau berdamai dan saling memaafkan, insya Allah rasa benci, dendam dan dengki tersebut akan bisa dihilangkan.
Ketiga, dapat menyambung silaturrahim yang telah putus. Dua orang bersaudara atau bertetangga, bisa jadi terganggu komunikasinya sehingga bertahun-tahun tidak saling bertegur-sapa. Padahal, pemicunya mungkin sepele, katakanlah gara-gara masalah anak. Namun karena keduanya merasa berada di pihak yang benar dan tidak ada yang mau mengalah, akibatnya silaturrahim antara keduanya menjadi terputus.
Keempat, dapat memperkokoh ukhuwah Islamiyah (persatuan dan kesatuan umat). Di dalam kehidupan umat Islam banyak terjadi perbedaan faham dan pendapat, baik di bidang fikih maupun bidang-bidang lainnya. Perbedaan-perbedaan tersebut kadang sampai menimbulkan konflik dan benturan yang cukup keras. Maka, bila setiap Muslim bersikap pemaaf terhadap saudaranya, berlapang dada dan saling menghormati pendapat yang berbeda tersebut, insya Allah persatuan dan kesatuan umat akan bisa diperkokoh.
Kelima, pemaaf itu dapat menghilangkan rasa permusuhan dan memperbanyak teman. Islam melarang permusuhan antarsesama. Sebaliknya, Islam sangat menganjurkan membangun persahabatan sebanyak mungkin. Untuk itulah Islam menganjurkan sifat pemaaf dan ketulusan hati kepada para pemeluknya, karena sifat pemaaf yang tulus itu akan menghilangkan sifat benci dan dendam, menghilangkan rasa permusuhan dan mempersubur persahabatan.
Keenam, melahirkan sifat tawadu', menghilangkan sifat sombong dan angkuh. Sifat sombong dan angkuh dapat timbul pada diri seseorang, karena ia merasa lebih dari yang lain, paling baik, paling benar dan paling mampu dalam segala hal. Sifat-sifat ini sering membuat orang enggan meminta maaf, karena ia merasa tidak pernah bersalah, sehingga ia gengsi untuk meminta maaf, bahkan meminta maaf dianggapnya identik dengan kerendahan diri.
Ketujuh, dapat menghapus dosa dan memudahkan jalan ke surga. Allah tidak akan mengampuni dosa seseorang dan tidak akan memasukkannya ke surga sebelum orang tersebut terlebih dulu menyelesaikan urusannya di dunia, sangkut pautnya dengan orang lain sehingga mereka berdamai dan saling memaafkan.
Kedelapan, menjadikan hati tenang-tenteram. Dosa adalah sesuatu yang membuat pelakunya gelisah, tidak tenang. Apalagi kalau dia telah menyadari betul bahwa perbuatannya itu tidak benar, maka bisa dipastikan, maka hidupnya tidak akan pernah merasa tenang, setiap hari dihantui oleh rasa bersalah atau berdosa. Jika dia telah meminta maaf, dan kesalahannya dimaafkan oleh orang lain, barulah hatinya akan tenang.
Kesembilan, sifat pemaaf itu akan melahirkan pemaaf juga. Ada orang yang ingin semua kesalahannya dimaafkan oleh orang lain, sementara dia sendiri enggan memaafkan kesalahan orang lain. Tentu orang lain akan sulit menerima hal itu. Jika kesalahan kita ingin dimaafkan oleh orang lain, maka terlebih dahulu maafkanlah kesalahan-kesalahan orang lain, niscaya orang lain akan memaafkan kesalahan kita.
Kesepuluh, sifat pemaaf itu merupakan bagian dari strategi dakwah yang jitu.Kaum kafir Quraisy demikian dahsyat memusuhi Nabi Muhammad dan umat Islam. Umat Islam di masa itu, selalu diganggu, disiksa bahkan dibunuh. Tetapi, ketika kaum Muslimin berhasil menguasai Makkah dan Jazirah Arab, Nabi Muhammad SAW segera memaklumkan amnesty umum, memaafkan semua kesalahan semua orang kafir Quraisy. Tindakan Nabi itu, ternyata membuat mereka tersentuh dan terharu, sehingga kemudian mereka berbondong-bondong masuk Islam.
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
"Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah, bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" (QS. an-Nur [24]: 22)
Pertama, dapat menyelesaikan perselisihan atau perseteruan. Perselisihan atau perseteruan mungkin timbul lantaran ada pihak yang melakukan perbuatan aniaya dan pihak lain merasa teraniaya. Jika pihak yang bersalah tidak mau meminta maaf, dan pihak yang merasa teraniaya juga enggan memaafkannya, maka perselisihan tersebut akan sulit diselesaikan. Tetapi dengan adanya sifat pemaaf niscaya perselisihan dan perseteruan tersebut dapat didamaikan.
Kedua, dapat menghilangkan rasa benci, dengki dan dendam. Benci, dengki dan dendam mungkin timbul karena suatu perseteruan yang belum bisa diselesaikan, lalu mendorong pihak-pihak yang berseteru untuk melakukan balas dendam, mencederai dan menghancurkan pihak lawan. Jika masing-masing pihak berlapangdada serta dengan tulus mau berdamai dan saling memaafkan, insya Allah rasa benci, dendam dan dengki tersebut akan bisa dihilangkan.
Ketiga, dapat menyambung silaturrahim yang telah putus. Dua orang bersaudara atau bertetangga, bisa jadi terganggu komunikasinya sehingga bertahun-tahun tidak saling bertegur-sapa. Padahal, pemicunya mungkin sepele, katakanlah gara-gara masalah anak. Namun karena keduanya merasa berada di pihak yang benar dan tidak ada yang mau mengalah, akibatnya silaturrahim antara keduanya menjadi terputus.
Keempat, dapat memperkokoh ukhuwah Islamiyah (persatuan dan kesatuan umat). Di dalam kehidupan umat Islam banyak terjadi perbedaan faham dan pendapat, baik di bidang fikih maupun bidang-bidang lainnya. Perbedaan-perbedaan tersebut kadang sampai menimbulkan konflik dan benturan yang cukup keras. Maka, bila setiap Muslim bersikap pemaaf terhadap saudaranya, berlapang dada dan saling menghormati pendapat yang berbeda tersebut, insya Allah persatuan dan kesatuan umat akan bisa diperkokoh.
Kelima, pemaaf itu dapat menghilangkan rasa permusuhan dan memperbanyak teman. Islam melarang permusuhan antarsesama. Sebaliknya, Islam sangat menganjurkan membangun persahabatan sebanyak mungkin. Untuk itulah Islam menganjurkan sifat pemaaf dan ketulusan hati kepada para pemeluknya, karena sifat pemaaf yang tulus itu akan menghilangkan sifat benci dan dendam, menghilangkan rasa permusuhan dan mempersubur persahabatan.
Keenam, melahirkan sifat tawadu', menghilangkan sifat sombong dan angkuh. Sifat sombong dan angkuh dapat timbul pada diri seseorang, karena ia merasa lebih dari yang lain, paling baik, paling benar dan paling mampu dalam segala hal. Sifat-sifat ini sering membuat orang enggan meminta maaf, karena ia merasa tidak pernah bersalah, sehingga ia gengsi untuk meminta maaf, bahkan meminta maaf dianggapnya identik dengan kerendahan diri.
Ketujuh, dapat menghapus dosa dan memudahkan jalan ke surga. Allah tidak akan mengampuni dosa seseorang dan tidak akan memasukkannya ke surga sebelum orang tersebut terlebih dulu menyelesaikan urusannya di dunia, sangkut pautnya dengan orang lain sehingga mereka berdamai dan saling memaafkan.
Kedelapan, menjadikan hati tenang-tenteram. Dosa adalah sesuatu yang membuat pelakunya gelisah, tidak tenang. Apalagi kalau dia telah menyadari betul bahwa perbuatannya itu tidak benar, maka bisa dipastikan, maka hidupnya tidak akan pernah merasa tenang, setiap hari dihantui oleh rasa bersalah atau berdosa. Jika dia telah meminta maaf, dan kesalahannya dimaafkan oleh orang lain, barulah hatinya akan tenang.
Kesembilan, sifat pemaaf itu akan melahirkan pemaaf juga. Ada orang yang ingin semua kesalahannya dimaafkan oleh orang lain, sementara dia sendiri enggan memaafkan kesalahan orang lain. Tentu orang lain akan sulit menerima hal itu. Jika kesalahan kita ingin dimaafkan oleh orang lain, maka terlebih dahulu maafkanlah kesalahan-kesalahan orang lain, niscaya orang lain akan memaafkan kesalahan kita.
Kesepuluh, sifat pemaaf itu merupakan bagian dari strategi dakwah yang jitu.Kaum kafir Quraisy demikian dahsyat memusuhi Nabi Muhammad dan umat Islam. Umat Islam di masa itu, selalu diganggu, disiksa bahkan dibunuh. Tetapi, ketika kaum Muslimin berhasil menguasai Makkah dan Jazirah Arab, Nabi Muhammad SAW segera memaklumkan amnesty umum, memaafkan semua kesalahan semua orang kafir Quraisy. Tindakan Nabi itu, ternyata membuat mereka tersentuh dan terharu, sehingga kemudian mereka berbondong-bondong masuk Islam.
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Minggu, 07 Agustus 2011
SEBERAPA BESARKAH DIRI KITA
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal” (QS 3:190)
***
Sungguh menarik melihat gambar di bawah ini. Kita bisa mengetahui perbandingan diri kita dengan alam raya ini. Seberapa besarkah diri kita jika dibandingkan dengan alam raya ini? Mari kita lihat!
Dimana diri kita?
Dimana?
Apakah diri kita masih terlihat?
Bintang Antares merupakan bintang ke-15 yang paling terang di angkasa. Jarak antara Bumi dengan bintang Antares adalah 1000 tahun cahaya. Satu tahun cahaya berjarak 9,460,730,472,580.8 Km (wah nggak faham ana)
Pada malam hari jika langit cerah bintang ini bisa kita lihat secara langsung. Arahkan pandangan kita pada langit malam mulai pukul 7.30 pada arah barat. Kerlap-kerlipnya bintang Antares pada konstalasi Scorpius terlihat bagaikan mutiara bersinar pada pekatnya langit malam. Dan perlu diketahui bahwa terdapat ratusan milyar bintang seperti Antares di jagat raya ini.
Jadi, dimanakah diri kita?
*********
:: Screen shot konstalasi bintang menggunakan Free Astronomy Software Stellarium
Rabu, 03 Agustus 2011
HARI INI SEBELUM ENGKAU MENGELUH
Hari ini, sebelum Engkau berniat untuk mengucapkan perkataan buruk
Pikirkanlah seseorang yang ditakdirkan tidak bisa berbicara
Sebelum Engkau mengeluhkan rasa makanan
Pikirkan seseorang yang tidak punya makanan sama sekali
Sebelum Engkau mengeluh tidak cukup akan sesuatu
Pikirkan seseorang yang harus mengemis di pinggir jalan
Sebelum Engkau mengeluh tentang perkara yang buruk
Pikirkan seseorang yang sekarang dalam keadaan terburuk dalam hidupnya
Sebelum Engkau mengeluh tentang suami/istri
Pikirkan tentang seseorang yang menangis sedih memohon pasangan hidup kepada Allah
Hari ini sebelum Engkau mengeluh tentang kehidupan
Pikirkan tentang seseorang yang telah meninggal dunia
Sebelum Engkau mengeluh tentang putra-putri Engkau
Pikirkan tentang seseorang yang ditakdirkan untuk tidak dikaruniai putra-putri
Sebelum Engkau marah karena rumah yang kotor dan tidak ada orang yang membersihkan
Pikirkan tentang orang-orang yang harus tidur di pinggir jalan
Sebelum Engkau mengeluh tentang jarak yang harus ditempuh saat mengemudi
Pikirkan tentang seseorang yang harus berjalan untuk menempuh jarak itu
Sebelum Engkau mengeluh lelah dan mengeluh tentang pekerjaan Engkau
Pikirkan seorang pengangguran, seseorang yang sulit mencari pekerjaan,
dan seseorang yang menginginkan pekerjaan Engkau sekarang
Sebelum Engkau menuduh seseorang atau tidak setuju terhadap pendapatnya
Ingatlah bahwa tiada seorang pun hidup tanpa dosa dan cela
Dan kita akan menghadap dan menjawab kepada-Nya.
Pikirkanlah seseorang yang ditakdirkan tidak bisa berbicara
Sebelum Engkau mengeluhkan rasa makanan
Pikirkan seseorang yang tidak punya makanan sama sekali
Sebelum Engkau mengeluh tidak cukup akan sesuatu
Pikirkan seseorang yang harus mengemis di pinggir jalan
Sebelum Engkau mengeluh tentang perkara yang buruk
Pikirkan seseorang yang sekarang dalam keadaan terburuk dalam hidupnya
Sebelum Engkau mengeluh tentang suami/istri
Pikirkan tentang seseorang yang menangis sedih memohon pasangan hidup kepada Allah
Hari ini sebelum Engkau mengeluh tentang kehidupan
Pikirkan tentang seseorang yang telah meninggal dunia
Sebelum Engkau mengeluh tentang putra-putri Engkau
Pikirkan tentang seseorang yang ditakdirkan untuk tidak dikaruniai putra-putri
Sebelum Engkau marah karena rumah yang kotor dan tidak ada orang yang membersihkan
Pikirkan tentang orang-orang yang harus tidur di pinggir jalan
Sebelum Engkau mengeluh tentang jarak yang harus ditempuh saat mengemudi
Pikirkan tentang seseorang yang harus berjalan untuk menempuh jarak itu
Sebelum Engkau mengeluh lelah dan mengeluh tentang pekerjaan Engkau
Pikirkan seorang pengangguran, seseorang yang sulit mencari pekerjaan,
dan seseorang yang menginginkan pekerjaan Engkau sekarang
Sebelum Engkau menuduh seseorang atau tidak setuju terhadap pendapatnya
Ingatlah bahwa tiada seorang pun hidup tanpa dosa dan cela
Dan kita akan menghadap dan menjawab kepada-Nya.
Langganan:
Postingan (Atom)